Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak sedikit menguat pada hari pertama perdagangan tahun 2026, setelah tahun lalu mencatat kerugian tahunan terbesar sejak 2020. Ini terjadi karena drone Ukraina menargetkan fasilitas minyak Rusia dan blokade Amerika Serikat (AS) menekan ekspor Venezuela.
Jumat (2/1/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 naik 42 sen menjadi US$ 61,27 per barel. Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2026 naik 42 sen menjadi US$ 57,84 per barel.
Rusia dan Ukraina saling tuding melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru meskipun pembicaraan yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump bertujuan untuk mengakhiri perang yang hampir berlangsung selama empat tahun.
Kyiv telah meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa bulan terakhir, dengan tujuan memutus sumber pendanaan Moskow untuk kampanye militernya di Ukraina.
Baca Juga: Bursa Asia Moncer Awali 2026, Taiwan-Korsel & Singapura Cetak Rekor Baru
Dan dalam tindakan terbaru pemerintahan Trump untuk meningkatkan tekanan pada Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Washington pada hari Rabu menjatuhkan sanksi pada empat perusahaan dan kapal tanker minyak terkait yang menurut mereka beroperasi di sektor minyak Venezuela.
Di Timur Tengah, krisis antara produsen OPEC Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait Yaman semakin memburuk setelah penerbangan dihentikan di bandara Aden pada hari Kamis. Hal ini terjadi sebelum pertemuan virtual antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, pada 4 Januari.
Para pedagang secara luas memperkirakan OPEC+ akan melanjutkan penundaan peningkatan produksi pada kuartal pertama, kata June Goh, analis senior di Sparta Commodities.
"Tahun 2026 akan menjadi tahun penting dalam menilai keputusan OPEC+ untuk menyeimbangkan pasokan," katanya, menambahkan bahwa China akan terus membangun stok minyak mentah pada paruh pertama, yang akan memberikan batas bawah bagi harga minyak.
KERUGIAN 2025
Patokan Brent dan WTI mencatat kerugian tahunan hampir 20% pada tahun 2025, yang paling tajam sejak 2020, karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan dan tarif lebih besar daripada risiko geopolitik. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut kerugian bagi Brent, rentetan terpanjang yang pernah tercatat.
"Saat ini, kami memperkirakan tahun yang cukup membosankan untuk harga minyak (Brent), berada dalam kisaran sekitar US$ 60 - US$ 65 per barel," kata analis energi DBS, Suvro Sarkar.
"Kuartal pertama akan lemah secara fundamental; pembaruan ketegangan geopolitik hanya tercatat sebagai gangguan kecil saat ini untuk pasar minyak dan mendorong beberapa pemulihan jangka pendek tetapi tidak mungkin menyebabkan pergerakan material," katanya.
Baca Juga: Emas & Logam Mulia: Reli 2026 Dimulai, Harga Tembus Rekor Baru
Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova, mengatakan pergerakan harga yang lesu mencerminkan pergumulan antara risiko geopolitik jangka pendek dan fundamental pasar jangka panjang yang mengarah pada kelebihan pasokan menjelang pertemuan OPEC+.
Harga WTI cenderung berada di kisaran US$ 55 hingga US$ 65 per barel pada kuartal pertama, tambahnya dalam catatan klien.
Di AS, produksi minyak mencapai rekor tertinggi 13,87 juta barel per hari pada bulan Oktober, menurut Administrasi Informasi Energi pada hari Rabu.
Stok minyak mentah turun sementara persediaan bensin dan distilat naik minggu lalu karena aktivitas penyulingan yang kuat, lapor EIA.













