Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada hari pertama perdagangan 2026, setelah sepanjang 2025 mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak 2020.
Kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk serangan drone Ukraina ke fasilitas energi Rusia serta tekanan Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Venezuela.
Melansir Reuters, harga minyak Brent naik 14 sen menjadi US$60,99 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 14 sen ke US$57,56 per barel pada Jumat (2/1) dini hari waktu Asia.
Baca Juga: Debut Gemilang Biren: Saham Chip AI China Meroket 82% di Bursa Hong Kong
Rusia dan Ukraina saling menuding telah melancarkan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru, meskipun di saat yang sama berlangsung perundingan intensif yang dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dengan tujuan menghambat sumber pendanaan Moskow bagi operasi militernya di Ukraina.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Venezuela. Washington pada Rabu (1/1) menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan beserta kapal tanker minyak yang dinilai terlibat dalam sektor minyak Venezuela.
Blokade AS tersebut bertujuan mencegah kapal tanker yang terkena sanksi masuk atau keluar dari Venezuela, sehingga memaksa perusahaan energi negara PDVSA mengambil langkah-langkah ekstrem untuk mencegah penghentian operasional kilang, di tengah menumpuknya persediaan bahan bakar residu.
Baca Juga: Bursa Australia 2026: Anjloknya Northern Star Picu Pelemahan ASX 200 di Awal Tahun
Sepanjang 2025, harga minyak Brent dan WTI masing-masing mencatatkan penurunan hampir 20%, menjadi yang terburuk sejak 2020.
Tekanan pasokan berlebih dan kekhawatiran terkait kebijakan tarif global dinilai lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik.
Bagi Brent, penurunan ini juga menjadi tahun ketiga berturut-turut harga minyak mencatatkan pelemahan, rekor terpanjang dalam sejarah.
Sementara itu, produksi minyak Amerika Serikat (AS) mencapai rekor tertinggi sebesar 13,87 juta barel per hari pada Oktober, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).
EIA juga melaporkan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, meskipun persediaan bensin dan distilat meningkat seiring aktivitas pengilangan yang tetap kuat.













