Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan kemunculan "Divergensi Besar" dalam pertumbuhan global yang bisa membahayakan stabilitas dan memicu kerusuhan sosial di tahun-tahun mendatang.
Karena itu, lembaga keuangan internasional tersebut mendesak negara-negara maju untuk menyediakan lebih banyak sumber daya bagi negara-negara berpenghasilan rendah.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, 50% negara berkembang berisiko semakin tertinggal, yang menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas dan kerusuhan sosial.
Untuk menghindari masalah yang lebih besar, dia bilang, negara-negara kaya dan institusi internasional harus berkontribusi lebih banyak.
Baca Juga: IMF bakal luncurkan metode baru untuk nilai keberlanjutan utang
Tapi, dia juga mendesak negara-negara yang berutang banyak untuk mencari restrukturisasi utang lebih cepat, dan untuk meningkatkan kondisi pertumbuhan.
"Tahun lalu, fokus utamanya adalah pada Great Lockdown. Tahun ini, kita menghadapi risiko Great Divergence," kata Georgieva kepada wartawan dalam konferensi video, Jumat (5/2).
“Kami memperkirakan, negara berkembang yang telah berpuluh-puluh tahun mengalami konvergensi dalam tingkat pendapatan akan berada di tempat yang sangat sulit kali ini,” ujarnya seperti dikutip Reuters.
Dekade yang hilang
Menurut dia, kemunduran standar hidup di negara berkembang akan membuat lebih sulit untuk mencapai stabilitas dan keamanan di negara-negara lain di dunia.
Baca Juga: IMF ramalkan ekonomi China tahun ini tumbuh 8,1%
“Risikonya apa? Kerusuhan sosial. Anda bisa menyebutnya dekade yang hilang. Mungkin generasi yang hilang,” ungkap Georgieva.
Negara-negara maju, Georgieva menyebutkan, telah menghabiskan sekitar 24% dari PDB rata-rata untuk tindakan dukungan selama pandemi, dibandingkan dengan 6% di negara berkembang dan 2% di negara-negara berpenghasilan rendah.
Georgieva mengungkapkan, upaya vaksinasi juga tidak merata, dengan negara-negara miskin menghadapi "kesulitan luar biasa" bahkan ketika dana pembangunan resmi turun.
Hanya satu negara di Afrika, Maroko yang mulai memvaksinasi warganya, menurut dia, mengutip keprihatinan besar tentang peningkatan kematian akibat Covid-19 di banyak negara benua hitam.
“Kita harus melakukan segala daya kita untuk membalikkan perbedaan berbahaya ini,” tegasnya, mencatat negara berkembang juga bisa kehilangan pergeseran besar yang sedang berlangsung di negara kaya ke ekonomi yang lebih digital dan hijau.













