kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.734   15,00   0,08%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

India Tambah Produksi Kedelai, Impor Minyak Sawit Bisa Tertekan


Selasa, 16 Juni 2026 / 19:56 WIB
India Tambah Produksi Kedelai, Impor Minyak Sawit Bisa Tertekan
ILUSTRASI. Pemerintah berikan subsidi kedelai impor (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Produksi kedelai India diperkirakan meningkat pada musim tanam tahun ini seiring tingginya harga komoditas tersebut dan kekhawatiran cuaca kering akibat fenomena El Niño yang diperkirakan menekan curah hujan monsun.

Kenaikan luas tanam ini berpotensi mengubah peta kebutuhan impor minyak nabati global, mengingat India merupakan salah satu importir terbesar minyak goreng dunia.

Para petani dan pelaku industri menyebut kenaikan harga kedelai hingga level tertinggi dalam empat tahun terakhir menjadi insentif utama untuk kembali menanam komoditas tersebut. Harga kedelai tercatat mencapai 7.587 rupee per 100 kilogram, jauh di atas harga acuan pemerintah sebesar 5.328 rupee. Sebaliknya, harga jagung justru berada di bawah harga dasar yang ditetapkan.

Baca Juga: Usai IPO, SpaceX Akuisisi Perusahaan Coding AI Senilai US$ 60 Miliar

Kondisi ini mendorong pergeseran pola tanam dari komoditas yang lebih boros air seperti tebu dan jagung menuju kedelai yang relatif lebih tahan terhadap keterbatasan air.

“Petani tahun lalu banyak beralih ke jagung. Tapi sekarang kedelai memberi keuntungan lebih baik, jadi banyak yang kembali menanamnya,” ujar Manoj Agrawal, Managing Director Maharashtra Oil Extractions.

Sentimen kekhawatiran terhadap musim hujan juga memperkuat tren tersebut. Badan meteorologi memperkirakan curah hujan monsun tahun ini bisa menjadi yang terlemah dalam 11 tahun terakhir akibat pengaruh El Niño, sehingga mendorong petani memilih tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.

“Biasanya kami menanam tebu, tapi karena prediksi hujan rendah, kami beralih ke kedelai karena jauh lebih hemat air,” kata Manoj Kale, petani di Solapur, Maharashtra.

Secara keseluruhan, luas tanam kedelai India tahun lalu mencapai sekitar 12 juta hektare, dan industri memperkirakan area tersebut dapat meningkat hingga 10% pada musim ini. Namun, pelaku industri menekankan bahwa hasil panen tetap sangat bergantung pada distribusi curah hujan selama musim monsun.

Di sisi lain, peningkatan produksi kedelai domestik diperkirakan dapat membantu menekan ketergantungan impor minyak nabati India, termasuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.

Selama ini, India mengimpor minyak sawit terutama dari Indonesia dan Malaysia, sementara minyak kedelai dan bunga matahari banyak dipasok dari Argentina, Brasil, Rusia, dan Ukraina. Tekanan impor tersebut diperkirakan mulai mereda jika produksi kedelai dalam negeri meningkat sesuai harapan.

Baca Juga: Kesepakatan Damai AS-Iran: Trump Jamin Iran Tak Akan Punya Senjata Nuklir

Namun, analis memperkirakan impor kedelai India masih berpotensi mencapai rekor sekitar 900.000 ton tahun ini, menyusul penurunan produksi pada musim sebelumnya.

Meski demikian, pelaku perdagangan menilai peningkatan produksi kedelai domestik tetap akan menjadi faktor penting dalam menahan laju impor minyak nabati di tengah dinamika harga global yang masih fluktuatif.




TERBARU

[X]
×