Inflasi Konsumen China Naik 2,7% di Bulan Juli, Didorong Kenaikan Harga Daging Babi

Rabu, 10 Agustus 2022 | 14:56 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Inflasi Konsumen China Naik 2,7% di Bulan Juli, Didorong Kenaikan Harga Daging Babi

ILUSTRASI. Tingkat inflasi China pada bulan Juli meningkat ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, didorong kenaikan harga daging babi. REUTERS/Jason Lee


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Tingkat inflasi China pada bulan Juli meningkat ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir yaitu sejak Juli 2020. Peningkatan ini terutama disebabkan melonjaknya harga daging babi. Sedangkan lemahnya permintaan konsumen menahan tekanan harga secara keseluruhan. 

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli naik 2,7% dari periode yang sama tahun lalu di saat harga daging babi melonjak 20,2%. 

Capaian itu lebih tinggi dari kenaikan bukan Juni sebesar 2,5% yoy. Kendati demikian, tingkat inflasi ini masih lebih rendah dari rata-rata proyeksi analis yang disurvei Bloomberg sebelumnya yaitu 2,9%.

Baca Juga: Bursa Asia Tergelincir Jelang Rilis Data Inflasi China dan Amerika

Sementara inflasi harga produsen melambat menjadi 4,2% di bulan Juli dari 6,1% pada bulan sebelumnya. Ini disebabkan oleh melemahnya harga komoditas. 

Berbeda dengan negara ekonomi utama lainnya, inflasi konsumen di China relatif terkendali tahun ini karena kebijakan pengendalian penyebaran Covid-19 yang ketat telah menekan belanja konsumen dan pelaku bisnis. 

Melonjaknya kasus Covid-19 di China, bersamaan dengan tekanan ekonomi global dan krisis industri properti, telah membuat pemulihan ekonomi China menjadi rapuh. 

Secara tak terduga, aktivitas pabrik pada bula Juli mengalami kontraksi dan penjualan properti terus menyusut.

Saat kenaikan harga daging babi diperkirakan akan mendorong inflasi konsumen tahun ini, inflasi inti (tidak termasuk harga pangan dan energi) justru melambat 0,8%. Ini menunjukkan sangat sedikit tekanan terhadap ekonomi yang harus diperhatikan pembuat kebijakan. 

"Inflasi mungkin akan naik menembus 3% dalam dua bulan ke depan karena basis pembandingnya yang rendah dan kenaikan harga daging babi," kata Bruce Pang, Kepada Riset dan Ekonom Jones Lang LaSalle Inc dikutip Bloomberg, Rabu (10/8). 

Sementara inflasi inti, menurut Brice , akan tetap jinak karena permintaan domestik masih lemah. Sehingga ia perkirakan pembuatan kebijakan tidak akan banyak melakukan pembatasan. 

Selain harga daging babi, kenaikan inflasi di Juli juga didorong kenaikan sayuran segar dan makanan lainnya serta faktor musiman. Harga makana secara keseluruhan naik 6,3% pada Juli. Adapun kenaikan daging babi secara tahunan merupakan yang pertama sejak September 2020. Harga buah-buahan dan sayuran segara maisng-masing naik 16,9% dan 12,9%. 

Baca Juga: Pemerintah Taiwan Meminta Foxconn Melepas Kepemilikan di Produsen Chip Asal China

David Qu, Ekonom Bloomberg menilai perlambatan inflasi inti menunjukkan konsumsi masih tertekan akibat Covid-19 dan kebijakan untuk mengendalikan Covid-19 terus menahan belanja rumah tangga. "Ini akan membuat kendala pada pertumbuhan. Itu berarti, bank sentral China perlu menjaga kebijakan yang mendukung," ujarnya. 

Sebaliknya, AS diperkirakan akan melaporkan inflasi harga konsumen utama yang lebih lemah untuk Juli sebesar 8,7% tetapi inflasi intinya akan naik. Hal itu akan semakin memberi tekanan pada Federal Reserve, yang telah menaikkan suku bunga empat kali tahun ini.

Bank sentral China akan memiliki kesempatan untuk memangkas suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun untuk memberikan lebih banyak dukungan moneter kepada ekonomi Senin depan, meskipun sebagian besar ekonom memperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah. 
Menurut analis Securities Daily, PBOC juga dapat mengurangi likuiditas dengan menggulirkan sebagian pinjaman kebijakan satu tahun 600 miliar yuan yang jatuh tempo.

Otoritas China telah mengisyaratkan kesediaan untuk membiarkan CPI merayap lebih tinggi. 

Baca Juga: Anggarkan US$ 52,7 Miliar, AS Siap Bersaing dengan China dalam Produksi Chip

“Jika kita dapat menjaga tingkat pengangguran di bawah 5,5% dan kenaikan CPI tetap di bawah 3,5% sepanjang tahun, kita dapat hidup dengan tingkat pertumbuhan yang sedikit lebih tinggi atau lebih rendah dari target, tentu saja tidak terlalu rendah,” ujar Perdana Menteri Li Keqiang.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru