kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.931   40,00   0,24%
  • IDX 7.394   4,50   0,06%
  • KOMPAS100 1.029   1,12   0,11%
  • LQ45 756   3,33   0,44%
  • ISSI 260   -0,45   -0,17%
  • IDX30 402   3,24   0,81%
  • IDXHIDIV20 498   7,26   1,48%
  • IDX80 116   0,18   0,16%
  • IDXV30 135   1,47   1,10%
  • IDXQ30 130   1,25   0,97%

Intelijen AS: Pemerintah Iran Masih Kuat Meski Digempur Habis-habisan 2 Pekan


Kamis, 12 Maret 2026 / 07:45 WIB
Intelijen AS: Pemerintah Iran Masih Kuat Meski Digempur Habis-habisan 2 Pekan
ILUSTRASI. Meski digempur habis-habisan, rezim Iran tetap solid menurut intelijen AS. Konflik berlarut-larut berisiko bagi AS. (REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Laporan intelijen Amerika Serikat menunjukkan kepemimpinan Iran masih relatif utuh dan belum menghadapi ancaman runtuh dalam waktu dekat, meskipun negara itu telah menghadapi hampir dua pekan serangan udara intensif dari Amerika Serikat dan Israel.

Tiga sumber Reuters yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan berbagai analisis menunjukkan pemerintahan Iran masih mampu mempertahankan kendali atas negara dan masyarakatnya.

“Sejumlah laporan intelijen memberikan analisis yang konsisten bahwa rezim tidak berada dalam bahaya runtuh dan masih mempertahankan kontrol atas publik Iran,” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Laporan intelijen terbaru disebut selesai disusun dalam beberapa hari terakhir.

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump akibat melonjaknya harga minyak global. Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa operasi militer terbesar AS sejak 2003 itu kemungkinan akan segera diakhiri.

Namun mencari jalan keluar dari konflik diperkirakan tidak mudah jika kepemimpinan garis keras di Iran tetap bertahan kuat.

Kepemimpinan Iran tetap solid

Laporan intelijen juga menyoroti soliditas kepemimpinan ulama di Iran meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas pada 28 Februari, hari pertama serangan gabungan AS dan Israel.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan dalam diskusi internal pemerintahnya juga tidak ada kepastian bahwa perang ini akan menyebabkan runtuhnya pemerintahan ulama di Iran.

Meski demikian, para sumber menegaskan situasi di lapangan masih sangat dinamis dan perkembangan politik di dalam negeri Iran dapat berubah sewaktu-waktu.

Baca Juga: Terungkap! 6 Hari Perang Lawan Iran, AS Habiskan US$ 11,3 Miliar

Kantor Office of the Director of National Intelligence dan Central Intelligence Agency (CIA) menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan resmi.

Target perang yang berubah

Sejak perang dimulai, AS dan Israel telah menyerang berbagai target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas nuklir, serta sejumlah tokoh senior pemerintah dan militer.

Pada awal operasi militer, Trump sempat menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka. Namun sejumlah pejabat tinggi AS kemudian menegaskan bahwa tujuan utama operasi bukan untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Serangan tersebut telah menewaskan puluhan pejabat tinggi Iran dan sejumlah komandan penting dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elite yang memiliki pengaruh besar dalam militer dan ekonomi Iran.

Meski demikian, laporan intelijen AS menyebut IRGC serta kepemimpinan sementara yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian Khamenei masih mampu mengendalikan negara.

Awal pekan ini, Assembly of Experts, lembaga ulama senior Syiah, menetapkan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Sumber lain yang mengetahui situasi tersebut mengatakan Israel tidak berniat membiarkan sisa-sisa pemerintahan lama tetap bertahan.

Baca Juga: Ekspor Minyak Iran Mengalir Deras, Mengapa AS Tak Berani Menyita Kapal?

Namun hingga kini belum jelas bagaimana kampanye militer AS-Israel saat ini dapat benar-benar menggulingkan pemerintahan Iran.

Menurut salah satu sumber, kemungkinan besar dibutuhkan operasi darat yang memungkinkan masyarakat Iran melakukan protes secara aman di jalanan.

Pemerintahan Trump sendiri belum menutup kemungkinan mengirim pasukan darat AS ke Iran.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×