Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Pekan lalu, Reuters melaporkan bahwa milisi Kurdi Iran yang berbasis di wilayah Kurdistan Irak sempat berdiskusi dengan pihak AS mengenai kemungkinan menyerang pasukan keamanan Iran di wilayah barat negara tersebut.
Serangan semacam itu dinilai dapat memberi tekanan pada aparat keamanan Iran dan membuka peluang bagi warga untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.
Namun laporan intelijen terbaru AS meragukan kemampuan kelompok Kurdi Iran untuk mempertahankan pertempuran melawan aparat keamanan Iran.
Dua sumber yang mengetahui laporan tersebut mengatakan kelompok-kelompok itu kekurangan jumlah pasukan dan persenjataan yang memadai.
Pemimpin Komala Party of Iranian Kurdistan, Abdullah Mohtadi, sebelumnya mengatakan puluhan ribu pemuda siap mengangkat senjata melawan pemerintah jika mendapatkan dukungan dari AS.
Ia juga mengklaim sejumlah unit IRGC dan aparat keamanan telah meninggalkan pangkalan mereka di wilayah Kurdi karena khawatir terhadap serangan udara AS dan Israel.
Tonton: Rusia Diduga Bantu Iran Lawan AS & Israel? Kremlin Akhirnya Buka Suara
Namun intelijen AS menilai klaim tersebut belum cukup menunjukkan bahwa kelompok Kurdi memiliki kemampuan militer untuk melawan pemerintah Iran secara efektif.
Kelompok Kurdi Iran dilaporkan juga telah meminta bantuan senjata dan kendaraan lapis baja kepada pejabat tinggi di Washington serta anggota Kongres AS.
Meski demikian, Presiden Trump pada Sabtu lalu menyatakan tidak akan mengizinkan kelompok Kurdi Iran untuk memasuki wilayah Iran dalam operasi militer tersebut.













