Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memanaskan ketegangan dengan Iran.
Dalam pidato kenegaraan di hadapan Kongres, Trump secara terbuka membuka kemungkinan serangan terhadap Teheran dengan alasan tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai “sponsor terorisme terbesar di dunia” memiliki senjata nuklir.
Trump menuding dukungan Iran terhadap kelompok militan, penindasan terhadap demonstran anti-pemerintah pada Januari, serta pengembangan program rudal dan nuklir sebagai ancaman serius bagi kawasan dan Amerika Serikat (A).
Baca Juga: Trump Serukan Warga Iran Terus Berunjuk Rasa, Klaim Bantuan Sedang Datang
Namun, ia tidak menyertakan bukti rinci untuk mendukung klaim tersebut.
Berikut rangkuman fakta dan penjelasan terkait pernyataan Trump mengenai program senjata Iran, berdasarkan penilaian publik AS dan laporan internasional.
Klaim Trump soal rudal dan nuklir Iran
Trump menyatakan Iran telah mengembangkan rudal yang mampu mengancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri, serta sedang membangun rudal yang segera dapat menjangkau Amerika Serikat.
Ia juga mengklaim serangan udara AS pada Juni lalu, yang disebut Operasi Midnight Hammer, telah meluluhlantakkan program senjata nuklir Iran. Meski begitu, menurut Trump, Teheran kini kembali menghidupkan ambisi tersebut.
Penilaian AS dan klaim Iran soal rudal
Badan Intelijen Pertahanan AS (Defense Intelligence Agency/DIA) menilai Iran memiliki kendaraan peluncur antariksa yang secara teoritis dapat dikembangkan menjadi rudal balistik antarbenua (ICBM) yang layak secara militer pada 2035, jika Iran memilih jalur tersebut.
Media pemerintah Iran sendiri mengklaim negara itu tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Singgung Opsi Serangan ke Iran: Seberapa Dekat Teheran ke Senjata Nuklir?
Pakar rudal Jeffrey Lewis dari Middlebury Institute of International Studies menilai estimasi DIA tersebut tergolong sangat konservatif, mengingat sejak 2013 Iran disebut ikut mengembangkan mesin rudal bersama Korea Utara, yang telah digunakan Pyongyang untuk beberapa generasi ICBM dengan jangkauan ke AS.
Kondisi terbaru program nuklir Iran
Tiga fasilitas yang diketahui memproduksi uranium yang diperkaya yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik maupun bom nuklir tergantung tingkat kemurniannya menjadi sasaran serangan udara AS pada Juni lalu.
Meski Trump berulang kali menyebut fasilitas itu “hancur total”, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan pada Juni lalu bahwa Iran masih bisa kembali memperkaya uranium dalam skala terbatas dalam hitungan bulan.
IAEA menyebut telah memeriksa 13 fasilitas nuklir Iran yang tidak dibom, namun belum dapat menginspeksi tiga lokasi utama yang diserang, yakni Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Seberapa dekat Iran dengan bom nuklir?
Salah satu alasan AS dan Israel melakukan pemboman Juni lalu adalah kekhawatiran Iran terlalu dekat untuk mampu memproduksi senjata nuklir. Namun, baik IAEA maupun komunitas intelijen AS menilai Iran telah menghentikan program pengembangan senjata nuklirnya sejak 2003.
Baca Juga: Trump Terus Ancam Serang Iran, Tapi Pengamat Khawatirkan Efeknya Bagi AS
Teheran membantah pernah mengejar senjata nuklir. Sebagai pihak dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran menyatakan memiliki hak untuk memperkaya uranium bagi kepentingan sipil.
Negara-negara Barat menilai tidak ada alasan sipil yang kredibel atas tingkat pengayaan uranium Iran saat ini, dan IAEA menyebut kondisi tersebut sebagai sangat mengkhawatirkan.
Dalam laporan penilaian ancaman global tahunan 2025, komunitas intelijen AS menyatakan tetap menilai Iran tidak sedang membangun senjata nuklir, dan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei belum mengaktifkan kembali program senjata nuklir yang dihentikan pada 2003, meski tekanan politik kemungkinan meningkat.
Baca Juga: Citra Satelit Ungkap Fakta Baru, Iran Bangun Bunker Beton di Situs Nuklir
Trump kemudian membantah penilaian tersebut, termasuk pandangan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, dengan menyebut Iran sangat dekat memiliki senjata nuklir, tanpa menyertakan bukti pendukung.
Klaim soal korban demonstrasi
Dalam pidato terbarunya, Trump juga mengulang tuduhan bahwa Iran telah membunuh sedikitnya 32.000 demonstran dalam beberapa bulan terakhir, angka yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, melaporkan telah mencatat 7.007 kematian yang terverifikasi, dengan 11.744 kasus lainnya masih dalam peninjauan.
Baca Juga: Trump dan Netanyahu Bahas Fase Kedua Gencatan Senjata Gaza
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut pemerintah telah merilis daftar resmi 3.117 korban tewas dalam kerusuhan.
Seorang pejabat Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa otoritas telah memverifikasi sedikitnya 5.000 kematian, termasuk sekitar 500 personel keamanan.












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)