Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
TOKYO. Japan Post Holdings Co bersiap menggelar hajatan penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) di Bursa Efek Tokyo pada 4 November mendatang. Perusahaan Jepang ini menetapkan harga IPO sebesar ¥ 1.400 per saham.
Mengutip Reuters, harga IPO perusahaan pos pelat merah Jepang tersebut di batas atas dari harga penawaran sebesar ¥ 1.100 hingga ¥ 1.400 per saham. Dari harga penawaran saham perdana tersebut, Japan Post Holdings akan memperoleh dana ¥ 693 miliar atau US$ 5,7 miliar.
Dari IPO Japan Post Holdings, Japan Post Bank dan Japan Post Insurance, Pemerintah Jepang mengharapkan bisa memperoleh dana hingga ¥ 1,44 triliun atau setara dengan US$ 11,9 miliar.
Ini merupakan penawaran umum saham perdana terbesar sejagad di tahun ini. Duit yang terkumpul dari IPO bakal dimanfaatkan Pemerintah Jepang untuk program rekonstruksi wilayah setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami di tahun 2011 lalu.
Harga IPO Japan Post yang dirilis, Senin (26/10), mencerminkan permintaan yang kuat dari investor ritel terhadap aksi privatisasi paling besar di Jepang dalam tiga dekade ini.
Pasar saham di Jepang juga mulai rebound dari kemerosotan setelah maraknya aksi jual di pasar saham China pada Agustus 2015 lalu.
Indeks Nikkei 225 Stock Average menguat 4% sejak rencana IPO Japan Post diumumkan pada 10 September lalu. Kemenangan Shinzo Abe Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe merupakan orang yang paling diuntungkan dari rencana IPO tiga BUMN ini.
Apalagi, orang nomor wahid di Jepang ini baru saja mengikat tali kesepakatan Trans Pasific Partnership (TPP) yang meniupkan angin segar ke dalam kebijakan ekonomi.
Target investor yang menyasar individu sangat penting bagi kebijakan abenomics. Sebab, masyarakat akan membelanjakan uangnya ketimbang menyimpannya dalam bentuk tabungan.
"Japan Post merupakan perusahaan yang sangat dikenal, bagian dari kehidupan sehari-hari bagi masyarakat domestik sehingga ini menjadi portofolio yang stabil dalam jangka panjang," kata Gavin Parry, Managing Director Parry International Trading kepada CNBC belum lama ini.
Kendati begitu, IPO tersebut tak serta merta bisa mengerek ekonomi karena Jepang memiliki beberapa hambatan. "Masalah demografi, tumpukan utang dan deflasi masih berlanjut," ujar Franklin Allen, profesor ekonomi di Wharton School of University of Pennsylvania.












