Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia turun pada Rabu (1/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyatakan negaranya akan segera mengakhiri perang dengan Iran.
Pernyataan ini membuat pasar masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Melansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun US$2,06 atau 2% menjadi US$101,91 per barel pada pukul 11:47 waktu ET (15:47 GMT), meski sempat menyentuh level terendah sesi US$98,35.
Baca Juga: Sektor Manufaktur AS Tumbuh di Maret, Tapi Kinerja Pengiriman Pemasok Memburuk
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun US$1,39 atau sekitar 1,4% menjadi US$99,99 per barel, setelah sempat berada di $96,50.
Trump yang dijadwalkan memberikan pidato di hari yang sama, menyatakan kepada Reuters bahwa AS telah memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan siap menarik diri dari perang "dengan cepat".
Pada Selasa (31/3), Trump juga menyinggung bahwa AS dapat menuntaskan konflik dalam dua hingga tiga minggu, bahkan tanpa kesepakatan.
Para analis pasar menilai, Trump kemungkinan tidak akan membiarkan gangguan pasokan minyak akibat perang Timur Tengah berlanjut hingga pertengahan Mei, saat permintaan bensin di AS biasanya mencapai puncaknya.
"Risiko terhadap harga bensin AS, sentimen konsumen, dan bahkan pemilihan paruh waktu November membuat konflik berkepanjangan menjadi mahal secara politik," kata analis SEB.
Baca Juga: Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, AS Tunggu Selat Hormuz Dibuka
Sinyal Berbeda dari AS dan Iran
Di media sosial pada Rabu, Trump menulis bahwa Iran telah meminta gencatan senjata, tetapi AS baru akan mempertimbangkan permintaan tersebut setelah Selat Hormuz dibuka. Iran membantah telah mengajukan permintaan gencatan senjata.
Selat Hormuz, jalur strategis untuk ekspor minyak Timur Tengah, ditutup sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari. Penutupan ini mengganggu pasokan minyak global dan mendorong harga bahan bakar naik.
Analis memperkirakan aliran energi melalui Selat Hormuz akan lambat kembali ke tingkat normal meski gencatan senjata diumumkan.
Baca Juga: Wall Street Menghijau Ditopang Harapan Redanya Perang Iran, Saham Teknologi Memimpin
Produksi Minyak Turun dan Stok AS Naik
Penutupan Selat Hormuz berdampak pada produksi minyak global. Data menunjukkan output minyak OPEC turun 7,5 juta barel per hari pada Maret dibanding Februari, karena kapasitas penyimpanan penuh.
Di AS, produksi minyak mentah Januari turun paling besar dalam dua tahun akibat badai musim dingin.
Sementara itu, Saudi Arabia diperkirakan menaikkan harga jual resmi minyak ke Asia ke level tertinggi, setelah minyak Timur Tengah menjadi yang termahal di dunia.
Di sisi lain, stok minyak mentah AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan minggu lalu, menurut data Energy Information Administration.













