Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - CALIFORNIA. Rencana penawaran umum perdana (IPO) raksasa antariksa SpaceX kian menunjukkan skala ambisinya. Perusahaan milik Elon Musk ini dikabarkan menggandeng setidaknya 21 bank untuk menggarap aksi korporasi yang diproyeksikan menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah pasar modal global.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa proyek yang diberi kode internal Project Apex bukan sekadar pencatatan saham biasa. IPO yang ditargetkan meluncur pada Juni mendatang itu disebut-sebut dapat mengerek valuasi SpaceX hingga US$ 1,75 triliun angka yang menempatkannya sejajar dengan perusahaan teknologi terbesar dunia.
Melasnir Reuters (1/4), sejumlah bank papan atas seperti Morgan Stanley, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Bank of America, dan Citigroup bertindak sebagai bookrunner utama. Mereka akan memimpin penawaran sekaligus mengoordinasikan distribusi saham ke berbagai segmen investor. Di luar itu, belasan bank lain hanya mengambil porsi peran yang lebih kecil.
Besarnya jumlah bank yang terlibat mencerminkan kompleksitas transaksi, sekaligus menyiratkan tingginya kebutuhan distribusi untuk menyerap valuasi jumbo tersebut. Di sisi lain, struktur sindikasi yang gemuk juga kerap dipandang sebagai strategi menyebar risiko di tengah ketidakpastian pasar.
Baca Juga: Ledakan Chip Dorong Ekspor Korea Selatan ke Level Tertinggi Empat Dekade
IPO ini diperkirakan menjadi salah satu debut paling disorot di Wall Street, terutama karena datang di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif. Investor global cenderung lebih selektif terhadap emiten teknologi berkapitalisasi besar, terutama yang valuasinya dinilai agresif.
Sejumlah bank dalam sindikasi juga akan membidik berbagai kanal investor, mulai dari institusi, nasabah kaya, hingga ritel, serta menjangkau berbagai wilayah geografis. Namun, rencana ini masih bersifat dinamis dan terbuka terhadap perubahan, termasuk kemungkinan penambahan bank baru.
Hingga kini, SpaceX belum memberikan pernyataan resmi. Sejumlah bank yang terlibat juga memilih bungkam, mencerminkan sensitifnya proses yang masih berjalan.
Fenomena sindikasi besar sendiri bukan hal baru. Pada 2023, Arm Holdings melibatkan hampir 30 bank dalam IPO-nya. Sementara Alibaba Group bahkan menggandeng konsorsium besar saat melantai pada 2014.
Meski demikian, ukuran sindikasi yang jumbo juga menyiratkan tantangan tersendiri. Semakin besar valuasi yang dibidik, semakin tinggi pula ekspektasi pasar. Jika tidak diimbangi kinerja fundamental dan prospek bisnis yang solid, IPO sebesar ini berisiko menghadapi tekanan setelah pencatatan fenomena yang kerap terjadi pada emiten teknologi dengan valuasi premium.
Baca Juga: Menlu Rubio: AS Sudah Melihat Garis Finish Perang Iran













