Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BAGHDAD. Irak mempertimbangkan kemungkinan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) jika kelompok produsen minyak tersebut tidak mengizinkan Baghdad meningkatkan produksi minyak secara signifikan, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.
Wacana keluarnya Irak dinilai dapat menjadi pukulan besar bagi OPEC, yang baru saja kehilangan Uni Emirat Arab kurang dari dua bulan sebelumnya. Irak sendiri merupakan produsen terbesar kedua dalam OPEC setelah Arab Saudi sekaligus salah satu pendiri organisasi tersebut pada 1960 di Baghdad.
Irak sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk menopang anggaran negara. Namun, pendapatan tersebut disebut terdampak oleh gangguan ekspor akibat perang Iran yang secara efektif menghambat pengiriman melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: PetroChina dan Indian Oil Kesulitan Sewa Kapal Tanker Angkut Minyak Irak
Seorang pejabat senior Kementerian Minyak Irak mengatakan kepada Reuters bahwa negara tersebut tengah menghadapi krisis keuangan akibat perang dan bahwa peningkatan kuota OPEC harus diperlakukan secara serius.
“Arab Saudi dan sekutu OPEC lainnya harus memandang isu ini dengan sangat serius. Jika tidak, Irak akan terpaksa mempertimbangkan semua opsi yang tersedia,” ujarnya.
Meski demikian, pejabat tersebut menegaskan bahwa pembahasan keluar dari OPEC masih terlalu dini. Ia juga menyebut bahwa saat ini Irak tetap berupaya mempertahankan keanggotaannya sambil mendorong peningkatan kuota produksi.
Kementerian Minyak Irak kemudian menegaskan bahwa laporan mengenai rencana keluar dari OPEC tidak mencerminkan posisi resmi pemerintah.
Saat ini, kuota produksi minyak Irak untuk Juli ditetapkan sebesar 4,378 juta barel per hari, namun produksi aktual disebut jauh lebih rendah akibat gangguan ekspor melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Kapal Tanker China Akhirnya Keluar dari Selat Hormuz, Bawa 2 Juta Barel Minyak Irak
Di sisi lain, OPEC+ yang terdiri dari anggota OPEC serta Rusia dan negara produsen lainnya sedang melakukan peninjauan kapasitas produksi anggota untuk menentukan basis produksi tahun 2027, yang akan menjadi acuan penetapan kuota.
Irak sebelumnya juga kerap kesulitan memenuhi kuota OPEC, meski kapasitas produksinya terus berkembang dengan bantuan perusahaan minyak Barat. Data OPEC menunjukkan produksi Irak pada Mei hanya sekitar 1,48 juta barel per hari, turun dari hampir 4,2 juta barel pada Februari sebelum gangguan ekspor.
Pemerintah Irak menyatakan sedang berupaya memulihkan kapasitas ekspor penuh dan menargetkan produksi minyak dapat meningkat hingga 7 juta barel per hari dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menegaskan bahwa prioritas pemerintahannya adalah pemulihan ekonomi, peningkatan investasi asing, dan pemberantasan korupsi. Ia juga menyatakan bahwa Irak ingin OPEC menyesuaikan kuota produksi dengan kapasitas dan jumlah penduduknya.
Harga minyak sempat turun setelah laporan ini muncul, dengan harga perdagangan berada di bawah US$ 73 per barel.














