kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Iran belum mau mengubah haluan soal kesepakatan nuklir


Jumat, 28 Juni 2019 / 22:40 WIB
Iran belum mau mengubah haluan soal kesepakatan nuklir

Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  VIENNA. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kemajuan pembicaraan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran dengan para diplomat senior dari Inggris, China, prancis, Jerman dan Rusia belum cukup meyakinkan.

Karena itu, Republik Islam tersebut belum mau mengubah keputusannya untuk melanjutkan program nuklirnya pasca AS menarik diri dari kesepakatan dan kembali menerapkan sanksi.


"Ini adalah langkah maju, tetapi itu masih belum cukup dan tidak memenuhi harapan Iran," ujar Araqchi kepada wartawan seperti dilansir Reuters, Jumat (28/6).

"Saya tidak berpikir kemajuan yang dibuat hari ini akan cukup kuat menghentikan proses nuklir kami, tetapi keputusan akhir akan dibuat di Teheran," terangnya.

Ia melanjutkan, dalam pertemuan tersebut, mekanisme perdagangan Instex telah beroperasi, dan transaksi pertama telah diproses. Namun ia mengatakan, itu masih kurang. Pasalnya, negara-negara Eropa tidak membeli minyak Iran. Padahal itu menjadi syarat utama agar bisa kembali ke kesepakatan nuklir tahun 2015.

"Agar Instex bermanfaat bagi Iran, orang Eropa perlu membeli minyak atau mempertimbangkan batas kredit untuk mekanisme ini jika tidak, Instex tidak seperti yang kita atau kami harapkan," katanya.

Instex sekarang telah diperluas untuk mencakup lebih banyak negara Eropa di luar Perancis, Inggris dan Jerman, yang dikenal sebagai E3, kata Araqchi.

Seorang diplomat Eropa mengkonfirmasi bahwa mekanisme itu sekarang sudah beroperasi tetapi E3 belum membuat pengumuman resmi.

Dalam pernyataan bersama sebelumnya pada hari Jumat, Austria, Belgia, Finlandia, Belanda, Slovenia, Spanyol dan Swedia, mengatakan mereka bekerja dengan E3 untuk mengembangkan mekanisme perdagangan.

Araqchi mengatakan semua pihak di Wina telah sepakat untuk mengadakan pertemuan menteri "segera".




TERBARU

Close [X]
×