Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan operasi militer baru untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun Iran merespons dengan serangan yang dilaporkan menghantam kapal-kapal komersial hingga memicu kebakaran di pelabuhan minyak Uni Emirat Arab (UEA). Situasi ini membuat pasar energi global kembali siaga, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dunia.
Reuters memberitakan, sejumlah kapal komersial dilaporkan terkena serangan dan sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab (UEA) terbakar akibat serangan Iran, setelah upaya Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka jalur pelayaran memicu eskalasi terbesar dalam perang sejak gencatan senjata diumumkan empat minggu lalu. Amerika Serikat mengatakan pihaknya menghancurkan enam kapal kecil milik Iran.
Trump mengumumkan misi baru bernama “Project Freedom” melalui media sosial pada malam hari, dengan tujuan memungkinkan kapal-kapal yang terjebak dapat melintasi selat. Ini menjadi upaya pertama yang tampak jelas untuk menggunakan kekuatan angkatan laut guna membuka kembali jalur pengiriman energi terpenting di dunia.
Namun, langkah tersebut pada tahap awal tampaknya justru menjadi bumerang. Tidak terjadi lonjakan lalu lintas kapal dagang, sementara Iran menunjukkan kekuatan. Iran sebelumnya telah mengancam akan merespons setiap eskalasi dengan serangan baru terhadap negara-negara tetangganya.
Militer AS mengatakan dua kapal dagang AS berhasil melintasi selat, namun tidak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi. Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak ada kapal yang melintas.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 4%, Ancaman Rudal dan Insiden Kebakaran Jadi Pemicu
Komandan pasukan AS di kawasan itu mengatakan armadanya menghancurkan enam kapal kecil Iran, namun Iran juga membantah laporan tersebut. Laksamana Brad Cooper mengatakan ia “sangat menyarankan” pasukan Iran untuk menjauh dari aset militer AS yang menjalankan misi tersebut.
Otoritas Iran merilis peta wilayah laut yang mereka klaim kini berada di bawah kendalinya, diperluas jauh melampaui Selat Hormuz hingga mencakup garis pantai panjang milik Uni Emirat Arab.
Korea Selatan melaporkan salah satu kapal dagangnya mengalami ledakan dan kebakaran di dalam Selat Hormuz. Badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan dua kapal terkena serangan di lepas pantai UEA, sementara perusahaan minyak ADNOC mengatakan salah satu kapal tanker minyak kosong miliknya terkena drone Iran.
Setelah laporan serangan drone dan rudal sepanjang hari di wilayah UEA, termasuk serangan yang memicu kebakaran di pelabuhan minyak penting, pemerintah UEA mengatakan serangan Iran merupakan eskalasi serius dan pihaknya berhak untuk merespons.
Pemerintah UEA juga menyatakan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi para siswa demi alasan keselamatan.
Baca Juga: Saudi Aramco Tahan Harga LPG Mei, Sonatrach Pangkas Tajam
Selat Masih Terblokir
Trump kesulitan mencari solusi atas gangguan pasokan energi internasional akibat blokade Iran di Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta gas alam cair (LNG).
Dalam lebih dari dua bulan sejak Trump melancarkan perang udara terhadap Iran bersama Israel pada 28 Februari, Teheran sebagian besar memblokir selat bagi kapal-kapal selain miliknya sendiri. Sejak bulan lalu, Amerika Serikat juga menerapkan blokade sendiri terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen kondisi penuh di selat pada Senin karena kedua pihak yang bertikai mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan.
Belum ada tanda bahwa banyak kapal dagang mencoba kembali melintas, dan perusahaan pelayaran besar mengatakan mereka kemungkinan akan menunggu hingga ada kesepakatan penghentian konflik sebelum berlayar.
Garda Revolusi Iran: Tidak Ada Kapal yang Melintas
Dalam unggahan di X, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan beberapa kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS berada di Teluk untuk mendukung operasi, dan dua kapal dagang berbendera AS telah melintasi selat “dan kini melanjutkan perjalanan dengan aman.”
Namun CENTCOM tidak menyebutkan nama kapal perang maupun kapal dagang tersebut, serta tidak menjelaskan kapan pelintasan itu terjadi.
Garda Revolusi Iran mengatakan tidak ada kapal komersial yang melintasi selat dalam beberapa jam terakhir, dan klaim AS adalah bohong.
Sebelumnya, Iran mengatakan mereka menembaki sebuah kapal perang AS yang mendekati selat hingga memaksanya berbalik arah. Laporan awal Iran menyebut kapal perang AS terkena serangan, tetapi Washington membantahnya dan pejabat Iran kemudian menyebut tembakan itu hanya sebagai tembakan peringatan.
UEA melaporkan terjadi kebakaran di sebuah instalasi minyak di pelabuhan Fujairah akibat serangan drone Iran. Fujairah berada di luar Selat Hormuz, menjadikannya salah satu dari sedikit jalur ekspor minyak Timur Tengah yang tidak perlu melewati selat tersebut.
Tonton: Perang Iran Jadi Laboratorium Musuh AS! China, Rusia, Korut Petik Pelajaran Besar
Industri Pelayaran Menunggu Kepastian
Harga minyak melonjak lebih dari 5% dalam perdagangan yang bergejolak setelah laporan meningkatnya serangan Iran.
Dalam unggahan media sosialnya, Trump tidak menjelaskan secara rinci langkah apa yang akan dilakukan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal agar dapat melintas.
Sebagai respons, komando gabungan Iran mengatakan kapal-kapal komersial dan tanker minyak harus berkoordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.
“Kami sudah berulang kali mengatakan keamanan Selat Hormuz berada di tangan kami... Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing, terutama tentara AS yang agresif, akan diserang jika mereka berniat mendekat dan memasuki Selat Hormuz,” kata pernyataan tersebut.
Amerika Serikat dan Israel menghentikan pengeboman terhadap Iran empat minggu lalu, dan pejabat AS serta Iran sempat menggelar satu putaran pembicaraan langsung. Namun upaya mengatur pertemuan lanjutan gagal.
Media pemerintah Iran melaporkan pada Minggu bahwa Washington telah menyampaikan tanggapan atas proposal Iran berisi 14 poin melalui Pakistan, dan Teheran sedang meninjaunya. Kedua pihak tidak memberikan rincian.
Proposal Iran itu akan menunda pembahasan program nuklir Iran hingga tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan kebuntuan soal pelayaran. Trump mengatakan akhir pekan lalu ia masih mempelajari proposal itu, tetapi kemungkinan besar akan menolaknya.













