Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Otoritas keuangan tertinggi China meminta perbankan dan sejumlah pemberi pinjaman besar untuk melaporkan paparan kredit mereka terhadap Venezuela.
Langkah ini diambil menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS), demikian dilaporkan Bloomberg News, Senin (5/1/2026), mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Permintaan tersebut disampaikan oleh National Financial Regulatory Administration (NFRA).
Baca Juga: Pefindo Beri Peringkat idAAA China Construction Bank Indonesia
Selain meminta laporan rinci, NFRA juga mengimbau perbankan memperketat pemantauan risiko atas seluruh kredit yang terkait dengan Venezuela.
Tujuannya untuk menilai potensi dampak dan risiko terhadap stabilitas sektor perbankan China.
Hingga berita ini diturunkan, NFRA belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi dari Reuters.
Selama bertahun-tahun, China dikenal sebagai salah satu kreditur utama Venezuela, terutama melalui skema pinjaman dengan jaminan pasokan minyak.
Dalam satu dekade terakhir, nilai pinjaman yang dikucurkan mencapai miliaran dolar AS, dengan peran besar bank-bank kebijakan seperti China Development Bank.
Baca Juga: Bank Mandiri Salurkan Kredit Rp 900 Miliar untuk Anak Usaha Tambang Grup Sinarmas
Menurut laporan Bloomberg, langkah NFRA mencerminkan meningkatnya kekhawatiran regulator terhadap potensi guncangan di sektor keuangan seiring memburuknya risiko geopolitik global.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China pada hari yang sama menegaskan kembali sikap Beijing terkait situasi di Venezuela.
Pemerintah China menyerukan pembebasan segera Presiden Nicolas Maduro setelah serangan Amerika Serikat terhadap negara Amerika Selatan tersebut.












