kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.174   -32,00   -0,19%
  • IDX 7.594   -39,89   -0,52%
  • KOMPAS100 1.050   -4,57   -0,43%
  • LQ45 756   -3,02   -0,40%
  • ISSI 275   -1,90   -0,69%
  • IDX30 401   -1,97   -0,49%
  • IDXHIDIV20 490   -0,83   -0,17%
  • IDX80 118   -0,43   -0,36%
  • IDXV30 138   -1,24   -0,89%
  • IDXQ30 129   -0,39   -0,30%

Jelang Tenggat Berakhirnya Gencatan Senjata, Nasib Perundingan Damai Iran Tak Pasti


Selasa, 21 April 2026 / 04:15 WIB
Jelang Tenggat Berakhirnya Gencatan Senjata, Nasib Perundingan Damai Iran Tak Pasti
ILUSTRASI. Iran sedang mempertimbangkan untuk menghadiri perundingan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Iran sedang mempertimbangkan untuk menghadiri perundingan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Senin (20/4/2026). Hal ini menyusul langkah Islamabad untuk mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang menjadi hambatan besar bagi Teheran untuk kembali ke upaya perdamaian.

Namun, pejabat tersebut menegaskan bahwa belum ada keputusan yang diambil. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa “pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut” oleh Amerika Serikat merupakan hambatan besar bagi kelanjutan proses diplomatik.

Melansir Reuters, Araqchi menyampaikan kepada Menlu Pakistan Ishaq Dar dalam percakapan telepon bahwa Iran masih mempertimbangkan semua aspek persoalan dan belum memutuskan langkah selanjutnya.

Gencatan senjata selama dua minggu dalam konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang perekonomian global, khususnya pasar energi, dijadwalkan berakhir pekan ini.

Dalam perundingan di Islamabad, Presiden AS Donald Trump disebut sangat ingin mencapai kesepakatan yang dapat membantu mencegah lonjakan harga minyak serta kejatuhan pasar saham.

Iran berharap dapat memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pengiriman penting bagi pasokan energi global, untuk memperoleh kesepakatan yang mencegah perang kembali terjadi, memberikan keringanan finansial dari sanksi yang telah berlangsung lama, serta memberikan ruang gerak bagi program nuklirnya.

Baca Juga: Presiden Iran Tak Percaya AS, Tidak Tunduk Pada Kekerasan: Perundingan Gagal

Menambah ketidakpastian, Wakil Presiden AS JD Vance pada Senin masih berada di Amerika Serikat, kata sumber lain kepada Reuters, membantah laporan bahwa ia sudah dalam perjalanan ke Pakistan untuk perundingan.

Pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya mengatakan Teheran sedang “meninjau secara positif” kemungkinan ikut serta dalam perundingan, perubahan sikap dibanding pernyataan sebelumnya yang menolak hadir dan berjanji akan membalas agresi AS.

Pejabat itu menyebut Pakistan sebagai mediator sedang melakukan upaya positif untuk mengakhiri blokade AS dan memastikan partisipasi Iran.

Trump mengatakan di media sosial bahwa ia yakin kesepakatan nuklir pemerintahannya dengan Iran akan lebih baik dibanding perjanjian internasional tahun 2015 yang dicapai setelah bertahun-tahun negosiasi pada masa Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat.

Trump menarik diri dari perjanjian itu pada 2018, dalam masa jabatan pertamanya, setelah perjanjian tersebut ditentang keras oleh Partai Republik di Kongres serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Belum jelas bentuk kesepakatan apa yang bisa dicapai hanya dalam beberapa hari perundingan, namun presiden AS dari Partai Republik itu memprediksi hasil cepat.

“Saya sama sekali tidak berada dalam tekanan, meskipun semuanya akan terjadi, relatif cepat!” tulis Trump dalam unggahan Truth Social.

Tonton: Latihan Perang Raksasa Dimulai! AS–Jepang–Filipina Unjuk Kekuatan di Dekat Taiwan

Blokade Menjadi Masalah

Gencatan senjata tampak berada dalam ancaman setelah AS mengatakan telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade, sementara Teheran berjanji akan melakukan pembalasan.

Sumber keamanan Pakistan mengatakan mediator Pakistan Field Marshal Asim Munir telah memberi tahu Trump bahwa blokade tersebut merupakan hambatan bagi perundingan, dan Trump berjanji akan mempertimbangkan untuk mengakhirinya.

AS berharap dapat memulai negosiasi di Pakistan sesaat sebelum gencatan senjata berakhir. Namun Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa “sinyal yang tidak konstruktif dan saling bertentangan dari para pejabat Amerika membawa pesan pahit; mereka menginginkan Iran menyerah.”

“Iran tidak tunduk pada kekuatan,” tambahnya dalam unggahan di X.

Gencatan Senjata Akan Segera Berakhir

Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran pada 7 April, dan belum menjelaskan secara tepat kapan gencatan senjata itu akan berakhir.

Sumber Pakistan yang terlibat dalam perundingan mengatakan gencatan senjata akan berakhir pada pukul 8 malam waktu ET pada Rabu, yang berarti tengah malam GMT atau pukul 03.30 pada Kamis waktu Iran.

AS mempertahankan blokadenya terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran mencabut lalu kembali memberlakukan blokade atas Selat Hormuz, yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG).

Harga minyak naik sekitar 5% karena para pedagang masih khawatir gencatan senjata akan runtuh. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir berhenti total dengan hanya tiga kali penyeberangan dalam 12 jam terakhir, menurut data pelayaran.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×