Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran untuk mencapai kesepakatan sebelum tenggat waktu pada Selasa (7/4/2026), dengan memperingatkan bahwa “sebuah peradaban akan musnah malam ini” jika tidak ada kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
“Seluruh peradaban akan musnah malam ini, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi,” kata Trump dalam unggahannya di Truth Social.
“Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen paling penting dalam sejarah dunia yang panjang dan kompleks.”
Sementara itu, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan memenuhi ultimatum Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga tenggat waktu yang ditetapkan.
Jika tidak dipatuhi, Trump mengancam akan melakukan pemboman terhadap infrastruktur sipil, yang berpotensi menjadi eskalasi terbesar dalam konflik sejauh ini.
Baca Juga: Istanbul Tegang: Penyerang Bersenjata Serang Konsulat Israel, Dua Polisi Luka Ringan
Seiring mendekati tenggat, serangan terhadap Iran dilaporkan meningkat sepanjang hari, menargetkan jembatan jalan dan rel, bandara, serta pabrik petrokimia, dan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah, menurut media Iran.
Iran membalas dengan menyatakan tidak lagi akan menahan diri dan mengancam akan menyerang infrastruktur negara-negara Teluk.
Teheran juga mengklaim telah melancarkan serangan baru terhadap kapal di kawasan Teluk serta fasilitas industri di Arab Saudi yang terkait dengan perusahaan Amerika Serikat.
Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran menolak proposal gencatan senjata sementara yang diajukan melalui mediator.
Iran menegaskan bahwa perundingan damai hanya bisa dimulai jika AS dan Israel menghentikan serangan, memberikan jaminan tidak akan melanjutkan operasi militer, serta memberikan kompensasi atas kerusakan.
Baca Juga: Malaysia Ambil Langkah Antisipasi Krisis Energi Akibat Perang Iran, Apa Saja?
Iran juga menuntut agar tetap memiliki kendali atas Selat Hormuz dan dapat mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.
Trump sendiri memberikan tenggat hingga pukul 20.00 waktu Washington untuk membuka blokade, dengan ancaman akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran dalam waktu empat jam jika tidak dipatuhi.
Di sisi lain, Iran memperingatkan akan membalas dengan menyerang infrastruktur negara sekutu AS di Teluk, yang sangat bergantung pada listrik dan air untuk menopang kota-kota gurun mereka.
Meski retorika kedua pihak semakin keras dan serangan meningkat, pasar global cenderung menahan diri, menunggu kepastian apakah Trump benar-benar akan menindaklanjuti ancamannya atau kembali menariknya seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Trump Manfaatkan Misi Penyelamatan Pilot untuk Ubah Narasi Perang Iran
Serangan Sasar Infrastruktur Vital
Laporan sepanjang hari menyebutkan serangan menghantam jembatan rel, jalan raya, bandara, dan fasilitas energi.
Pemadaman listrik terjadi di wilayah Karaj, dekat Teheran, setelah jaringan transmisi diserang. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Israel bahkan memperingatkan warga Iran melalui media sosial berbahasa Persia untuk menjauhi jalur kereta, karena berisiko menjadi target.
Sementara itu, sebuah sinagoge di Teheran dilaporkan hancur akibat serangan udara yang disebut Iran dilakukan oleh Israel. Rekaman menunjukkan teks Ibrani berserakan di antara puing-puing bangunan.
Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa respons Teheran akan membuat Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan kehilangan akses minyak dan gas selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Pasar Global Berfluktuasi, Harga Minyak Tembus US$110 di Tengah Ancaman Eskalasi Iran
Harapan Publik dan Jalur Diplomasi
Di tengah eskalasi, warga Iran berharap ancaman tersebut tidak benar-benar terjadi.
“Saya harap ini hanya gertakan Trump,” kata seorang warga Isfahan kepada Reuters.
Ia menginginkan perubahan politik, namun tidak dengan cara menghancurkan infrastruktur negara.
Sejauh ini, berbagai proposal telah dipertukarkan, dengan Pakistan berperan sebagai mediator utama.
Namun, belum ada tanda kompromi, dengan kedua pihak sama-sama mengklaim posisi unggul dan menuntut konsesi besar.
Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Pertahankan Pembelian Emas Selama 17 Bulan Berturut-turut
Iran menginginkan penghentian permanen perang, pencabutan sanksi, serta rekonstruksi fasilitas yang rusak, sementara proposal mediator mencakup gencatan senjata sementara dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, pernyataan keras Trump di media sosial dan konferensi pers, termasuk ancaman menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik Iran, memicu kecaman dari Teheran.
Duta Besar Iran untuk PBB menyebut pernyataan tersebut sebagai hasutan langsung terhadap terorisme dan indikasi niat melakukan kejahatan perang, sementara petinggi militer Iran menyebut Trump “delusional”.













