Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Pemerintah Jepang mulai mendorong dana pensiun raksasa negara itu untuk meningkatkan investasi di aset domestik.
Langkah ini dinilai berpotensi membalik arus modal yang selama bertahun-tahun mengalir ke luar negeri pada era mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, sekaligus menguatkan yen dan menopang pembiayaan sektor strategis seperti kecerdasan buatan (AI).
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Jumat (10/7/2026) mengusulkan agar Government Pension Investment Fund (GPIF) senilai US$ 1,8 triliun, bersama dana pensiun lainnya, memperbesar kepemilikan aset di dalam negeri.
Pernyataan tersebut langsung memicu lonjakan harga obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGB) terbesar dalam hampir dua tahun terakhir.
Baca Juga: Jaga Keberlanjutan Pembayaran Manfaat, OJK Dorong Dana Pensiun Terapkan Strategi Ini
Nilai tukar yen juga menguat dari posisi terendahnya dalam beberapa dekade setelah pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan dana investasi yang selama ini mengalir ke luar negeri akan kembali ke Jepang.
Meski belum ada rincian kebijakan yang diumumkan, pelaku pasar menilai langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu perubahan terbesar dalam arus modal global dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Perdagangan Valuta Asing Asia Pasifik Citi Nathan Swami mengatakan, jika kebijakan itu benar-benar dijalankan, dampaknya terhadap pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap yen akan sangat signifikan, meski suku bunga Amerika Serikat tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar.
Selama bertahun-tahun, perusahaan asuransi jiwa Jepang menjadi pembeli dolar AS yang agresif setelah pemerintahan Shinzo Abe mendorong GPIF meningkatkan investasi di luar negeri demi mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.
Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Penambahan Peserta
Pada 2025, Jepang tercatat memiliki aset luar negeri senilai 561,75 triliun yen atau sekitar US$ 3,53 triliun, terbesar ketiga di dunia setelah Jerman dan China. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 930 miliar dikelola oleh GPIF yang merupakan dana pensiun terbesar di dunia.
Juru bicara GPIF menolak memberikan komentar terkait pernyataan Menteri Keuangan tersebut.
Setelah kabar itu muncul, yen menguat sekitar 0,4% ke level 161,76 per dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun 17,5 basis poin menjadi 2,7%.
Di sisi lain, pasar obligasi di Eropa, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia relatif stabil. Investor masih menunggu kepastian apakah Jepang benar-benar akan mengalihkan porsi investasi dana pensiunnya ke aset domestik.
Kepala Suku Bunga Internasional Vanguard Ales Koutny mengatakan Jepang selama ini merupakan pembeli utama obligasi global, terutama obligasi jangka panjang.
Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Peserta Aktif
Menurutnya, jika alokasi investasi ke obligasi pemerintah Jepang benar-benar meningkat secara signifikan, premi risiko obligasi di berbagai negara dapat ikut terdorong naik.
Kemungkinan kembalinya dana investasi ke Jepang telah lama menjadi salah satu skenario yang diperhitungkan pelaku pasar.
Selama ini, arus modal keluar menjadi salah satu penyebab yen terus melemah sejak 2014, ketika Shinzo Abe mendorong GPIF mengurangi kepemilikan obligasi domestik dan meningkatkan investasi pada saham serta aset luar negeri karena rendahnya imbal hasil di Jepang dan tekanan populasi yang menua.
Kini, Perdana Menteri Sanae Takaichi dikabarkan mempertimbangkan memanfaatkan dana pensiun tersebut untuk membalik tren tersebut.
Selain membantu memperkuat yen, dana yang kembali ke Jepang diharapkan dapat mendukung pembiayaan proyek-proyek pertumbuhan seperti AI, semikonduktor, dan pertahanan.
Momentum tersebut dinilai cukup mendukung karena pasar saham Jepang tengah menguat, sementara imbal hasil obligasi domestik menjadi semakin menarik. Indeks Nikkei telah naik 36% sepanjang tahun ini hingga mencetak rekor baru secara berturut-turut.
Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri: SRBI Menarik sebagai Instrumen Investasi Jangka Pendek
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 1996.
Kepala Strategi Valuta Asing dan Suku Bunga OCBC Frances Cheung menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi kembali komposisi investasi antara aset domestik dan luar negeri.
Menurutnya, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang kini sudah setara bahkan lebih menarik dibandingkan obligasi pemerintah AS setelah memperhitungkan lindung nilai mata uang.
Meski demikian, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang juga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal negara tersebut.
Yen pun tetap berada di level lemah meski Bank of Japan telah menaikkan suku bunga dan pemerintah melakukan intervensi valuta asing dalam jumlah terbesar sepanjang tahun ini.
Ekonom Jepang Oxford Economics Norihiro Yamaguchi menilai gagasan tersebut mengingatkan pada upaya Korea Selatan yang pernah mendorong dana pensiunnya menopang nilai tukar won pada Desember lalu, tetapi belum menunjukkan hasil berarti.
Ia meragukan kebijakan itu cukup kuat mengubah tren pelemahan yen yang masih dipengaruhi fundamental ekonomi.
Baca Juga: Ini Tantangan dan Strategi Pertumbuhan Aset Dana Pensiun 2026 Menurut Asosiasi DPLK
Meski begitu, kuatnya reli obligasi pemerintah Jepang pada Jumat menunjukkan pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan besar arus dana investasi kembali ke pasar domestik.
Ekonom Kepala Asia HSBC Fred Neumann mengatakan repatriasi aset dalam skala besar menjadi bagian yang selama ini belum terwujud dalam proses pemulihan ekonomi Jepang.
Menurutnya, meski suku bunga domestik meningkat dan pasar saham mencetak kinerja kuat, investor Jepang sejauh ini masih belum menunjukkan minat besar untuk mengurangi kepemilikan aset luar negeri dan mengalihkan dana kembali ke pasar domestik.














