kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45916,25   -4,93   -0.53%
  • EMAS960.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.05%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Jual senjata ke Taiwan, China jatuhkan sanksi ke perusahaan AS


Senin, 26 Oktober 2020 / 16:50 WIB
Jual senjata ke Taiwan, China jatuhkan sanksi ke perusahaan AS
ILUSTRASI. Armada tempur Taiwan saat melakukan latihan militer.


Sumber: Channel News Asia | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - BEIJING. China mengatakan, akan menjatuhkan sanksi pada Lockheed Martin, Boeing, dan perusahaan Amerika Serikat (AS) lainnya yang terlibat dalam penjualan senjata ke Taiwan.

Kedua raksasa AS tersebut baru-baru ini terlibat dalam penjualan rudal senilai US$ 1 miliar ke Taiwan bersama Raytheon.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian mendesak AS "untuk menghentikan penjualan senjata" ke Taiwan.

Status Taiwan berpotensi menimbulkan konflik antara Amerika Serikat dan China, dalam perjuangan yang lebih luas untuk teknologi, keamanan, dan supremasi perdagangan.

Baca Juga: Bukan untuk berlomba melawan China, ini alasan Taiwan membeli paket senjata dari AS

Departemen Luar Negeri AS pekan lalu mengatakan, telah menyetujui penjualan 135 rudal udara-ke-darat dalam sebuah langkah yang menurut kementerian Pertahanan Taiwan akan membangun kemampuan tempurnya.

Yang juga AS setujui adalah penjualan enam pod pengintai udara MS-110 dan 11 peluncur roket ringan M142. Sehingga, nilai tiga paket senjata tersebut menjadi US$ 1,8 miliar.

Beijing menegaskan, Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan telah berjanji untuk menanggapi dengan paksa jika Taipei secara resmi bergerak menuju deklarasi kemerdekaan.

Untuk melindungi kepentingan nasional

Zhao mengatakan, sanksi terhadap perusahaan AS itu "untuk melindungi kepentingan nasional", dan akan berlaku bagi mereka yang "berperilaku buruk dalam proses penjualan senjata ke Taiwan".

Baca Juga: China berang AS jual persenjataan ke Taiwan

"Kami akan terus mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan nasional dan kepentingan keamanan," kata Zhao, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, Senin (26/10), seperti dikutip Channel News Asia.

Beijing telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Taiwan sejak pemilihan Presiden Tsai Ing-wen tahun 2016, yang memandang pulau itu sebagai negara berdaulat de facto dan bukan bagian dari "Satu China".

Jet tempur dan pembom China telah memasuki zona pertahanan udara Taiwan dengan frekuensi yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sementara film propaganda telah menunjukkan serangan simulasi di wilayah seperti Taiwan.

Beijing telah memberi sanksi kepada Lockheed atas penjualan senjata sebelumnya ke Taiwan.

Selanjutnya: China: AS membahayakan stabilitas di seluruh Selat Taiwan

 




TERBARU
Corporate Valuation Model Investment Appraisal Model & Presentation

[X]
×