Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kepercayaan konsumen Amerika Serikat (AS) melemah pada Agustus 2026 ke level terendah dalam tujuh bulan.
Penurunan tersebut mencerminkan memburuknya pandangan rumah tangga terhadap pasar tenaga kerja dan inflasi.
Mengutip Reuters, Selasa (25/8/2026), Conference Board melaporkan, indeks kepercayaan konsumen turun menjadi 89,4 pada Agustus, dari 90,2 pada Juli setelah direvisi turun.
Angka tersebut merupakan level terendah sejak Januari 2026 dan berada di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 90,2. Sebelumnya, indeks Juli dilaporkan sebesar 90,8.
Baca Juga: Yield US Treasury Turun, Harga Minyak Anjlok dan Investor Cermati Buyback
Penurunan kepercayaan konsumen terutama dipicu oleh indeks ekspektasi yang merosot 7,8%.
Pelemahan tersebut mengimbangi perbaikan pertama dalam empat bulan pada penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
" Konsumen menjadi lebih pesimistis terhadap kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja dalam enam bulan ke depan," ujar Dana Peterson, Chief Economist Conference Board.
Kekhawatiran Pasar Kerja Meningkat
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah jobs differential index, yang mengukur selisih antara konsumen yang menilai lapangan pekerjaan mudah diperoleh dan mereka yang menilai pekerjaan sulit didapat.
Indeks tersebut meningkat pada Agustus untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Kenaikan ini terjadi setelah indeks pada Juli berada di level terendah dalam lebih dari lima tahun.
Perubahan tersebut menunjukkan kekhawatiran rumah tangga terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS semakin meningkat.
Baca Juga: China Borong Emas Lagi, Impor Juli Melonjak 28%, Ada Apa?
Selain pasar kerja, ekspektasi inflasi konsumen juga memburuk.
Konsumen memperkirakan inflasi dalam 12 bulan ke depan mencapai 5,8%, naik dari perkiraan 5,6% pada Juli.
Kenaikan ekspektasi inflasi tersebut menjadi perhatian bagi pasar karena dapat memengaruhi pola konsumsi rumah tangga sekaligus menjadi pertimbangan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan moneter.














