Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (3/2/2026), memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut.
Pasar merespons peluang meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di tengah penguatan dolar AS yang menambah tekanan pada harga.
Minyak mentah Brent turun 68 sen atau sekitar 1% ke level US$65,62 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 60 sen atau 1% menjadi US$ 61,54 per barel.
Sehari sebelumnya, harga minyak sudah anjlok lebih dari 4% setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran “serius berbicara” dengan Washington. Pernyataan ini memicu spekulasi pasar bahwa risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai mereda.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Pasca Trump Isyaratkan Dialog dengan Iran Terkait Program Nuklir
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat mendatang di Turki. Namun, Trump juga mengingatkan situasi tetap sensitif dengan kehadiran kapal perang besar AS di kawasan tersebut.
“Jika tidak ada kesepakatan, hal buruk bisa terjadi,” ujarnya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa dialog dengan AS bisa ditempuh selama tidak disertai ancaman dan tuntutan yang tidak masuk akal.
“Pembicaraan harus menjaga kepentingan nasional Iran,” tulisnya di platform X.
Analis pasar menilai gejolak harga minyak dalam beberapa pekan terakhir sangat dipengaruhi faktor risiko geopolitik.
“Pergerakan harga yang volatil didorong premi risiko geopolitik, khususnya terkait sikap AS terhadap Iran,” kata analis senior OANDA, Kelvin Wong.
Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS. Indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari sepekan, membuat minyak yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Langsung Anjlok 5%
Dari sisi pasokan, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyebut Rusia memiliki pasokan bahan bakar yang cukup, bahkan surplus. Ia menilai pasar produk minyak Rusia telah stabil sejak musim gugur tahun lalu.
Pasar juga mencermati kesepakatan dagang baru antara AS dan India.
Trump mengumumkan pemangkasan tarif AS atas produk India menjadi 18% dari sebelumnya 50%, dengan imbalan India menghentikan pembelian minyak Rusia dan menurunkan hambatan dagang.
Analis ING memperingatkan langkah ini berpotensi menambah volume minyak Rusia yang tidak terserap pasar.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Pemuatan Minyak dari Pusat Ekspor Rusia Kembali Berjalan
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan masih bergejolak. “Harga akan cenderung bergerak dalam rentang sempit dan sangat sensitif terhadap berita serta faktor makro,” kata analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Risiko penurunan harga dinilai masih lebih besar dalam jangka pendek.













