Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sebelumnya, Khamenei sempat mengakui adanya keluhan ekonomi yang memicu protes. Aksi demonstrasi dimulai pada 28 Desember, awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial Iran, lalu berkembang menjadi tantangan langsung terhadap kepemimpinannya.
Ia menyebut protes tersebut sebagai bentuk penghasutan yang menyerupai kudeta, dengan tuduhan bahwa massa menyerang polisi, fasilitas pemerintah, markas Garda Revolusi, bank, dan masjid, serta membakar salinan Al Quran.
Lembaga Human Rights Activists New Agency yang berbasis di AS melaporkan lebih dari 49.500 orang telah ditahan. Mereka juga menyebut sedikitnya 6.713 orang tewas, mayoritas demonstran. Namun, Associated Press belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen karena akses internet Iran diputus.
Pemerintah Iran, per 21 Januari, menyebut angka korban jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang, dengan sebagian diklaim sebagai “teroris.” Dalam berbagai peristiwa sebelumnya, pemerintah Iran kerap dituding meremehkan jumlah korban.
Tonton: Donald Trump Dituduh Lakukan Kejahatan Seksual dalam Dokumen Epstein
Jumlah korban ini menjadi yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir dan mengingatkan pada kekacauan saat Revolusi Iran 1979.













