Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa setiap serangan dari Amerika Serikat akan memicu “perang regional” di Timur Tengah. Pernyataan ini semakin meningkatkan ketegangan, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang demonstrasi nasional.
Melansir AP, pernyataan keras tersebut disampaikan Khamenei yang kini berusia 86 tahun, saat kapal induk AS USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perang Amerika lainnya berada di Laut Arab. Armada tersebut dikirim atas perintah Trump setelah Teheran melakukan penindakan berdarah terhadap aksi protes di berbagai wilayah Iran.
Hingga kini, belum jelas apakah Trump benar-benar akan menggunakan kekuatan militer. Trump berulang kali menyatakan Iran ingin bernegosiasi, sekaligus menyinggung program nuklir Teheran sebagai isu utama yang ingin ia selesaikan.
Namun, Khamenei menyebut gelombang demonstrasi nasional sebagai “kudeta,” yang memperkeras sikap pemerintah. Puluhan ribu orang dilaporkan telah ditahan sejak aksi protes dimulai. Di Iran, tuduhan makar atau penghasutan dapat berujung pada hukuman mati, yang kembali memicu kekhawatiran soal kemungkinan eksekusi massal, sebuah garis merah bagi Trump.
Iran juga berencana menggelar latihan militer dengan tembakan langsung pada Minggu dan Senin di Selat Hormuz, jalur strategis di mulut Teluk Persia yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Komando Pusat Militer AS telah memperingatkan agar Iran tidak mengancam kapal perang atau pesawat AS, serta tidak mengganggu lalu lintas komersial.
Baca Juga: Kebijakan Moneter AS, Ini Dampak Warsh Pimpin The Fed pada Ekonomi Global
Khamenei: Serangan AS Akan Picu Perang Kawasan
Khamenei berbicara di hadapan massa di kompleks kediamannya di Teheran, bertepatan dengan peringatan Revolusi Islam Iran 1979. Ia menuding AS tertarik pada minyak, gas alam, dan sumber daya mineral Iran, serta ingin “menguasai negara ini seperti di masa lalu.”
“Orang-orang Amerika harus sadar bahwa jika mereka melancarkan perang kali ini, maka itu akan menjadi perang regional,” kata Khamenei.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak berniat memulai konflik. Namun, jika ada pihak yang menyerang atau mengganggu, Iran akan memberikan balasan keras.
Menanggapi pernyataan tersebut, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS memiliki kapal-kapal perang terbesar dan terkuat di kawasan tersebut. Ia berharap masih ada peluang kesepakatan, namun menegaskan bahwa jika tidak tercapai, maka situasi akan diuji.
Baca Juga: Kebijakan Moneter AS, Ini Dampak Warsh Pimpin The Fed pada Ekonomi Global
Protes Disebut Kudeta, Posisi Pemerintah Makin Keras
Sebelumnya, Khamenei sempat mengakui adanya keluhan ekonomi yang memicu protes. Aksi demonstrasi dimulai pada 28 Desember, awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial Iran, lalu berkembang menjadi tantangan langsung terhadap kepemimpinannya.
Ia menyebut protes tersebut sebagai bentuk penghasutan yang menyerupai kudeta, dengan tuduhan bahwa massa menyerang polisi, fasilitas pemerintah, markas Garda Revolusi, bank, dan masjid, serta membakar salinan Al Quran.
Lembaga Human Rights Activists New Agency yang berbasis di AS melaporkan lebih dari 49.500 orang telah ditahan. Mereka juga menyebut sedikitnya 6.713 orang tewas, mayoritas demonstran. Namun, Associated Press belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen karena akses internet Iran diputus.
Pemerintah Iran, per 21 Januari, menyebut angka korban jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang, dengan sebagian diklaim sebagai “teroris.” Dalam berbagai peristiwa sebelumnya, pemerintah Iran kerap dituding meremehkan jumlah korban.
Tonton: Donald Trump Dituduh Lakukan Kejahatan Seksual dalam Dokumen Epstein
Jumlah korban ini menjadi yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir dan mengingatkan pada kekacauan saat Revolusi Iran 1979.













