Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Euforia yang menyelimuti pasar kredit global mulai menunjukkan retaknya. Di tengah derasnya penerbitan obligasi dan pinjaman korporasi, utang perusahaan perangkat lunak justru menjadi titik rawan baru. Investor mulai menarik rem, khawatir kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan menggerus model bisnis yang selama ini dianggap paling stabil.
Harga pinjaman sejumlah perusahaan perangkat lunak anjlok dalam sepekan terakhir. Pinjaman Cloudera Inc misalnya, turun sekitar 7 sen per dolar. Tekanan serupa juga menimpa pinjaman Dayforce Inc hingga Rocket Software Inc. Bahkan di Eropa, perusahaan perangkat lunak Team.Blue dan Conga portofolio Thoma Bravo kesulitan mengerek minat investor untuk menerbitkan utang baru, di saat pasokan pinjaman di pasar sedang melimpah.
Pasar menilai sektor perangkat lunak sedang menghadapi badai ganda. Di satu sisi, jadwal penerbitan pinjaman berada pada titik terpadat dalam beberapa bulan terakhir, memicu tekanan harga. Di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar soal daya tahan model bisnis perangkat lunak ketika AI mulai mampu mengambil alih fungsi-fungsi inti, termasuk pemrograman.
“Pasar pinjaman sedang dihantam badai,” ujar Scott Macklin, kepala US leveraged finance di Obra Capital dalam laporan Bloomberg (1/2). Menurutnya, gelombang penyesuaian harga bertabrakan dengan kecemasan eksistensial terhadap masa depan bisnis perangkat lunak, sektor terbesar di pasar leveraged loan. Arus penawaran pinjaman yang besar melalui skema bids wanted in competition (BWIC) memperparah tekanan jual.
Baca Juga: Waymo, Taksi Robot Milik Induk Google, Cari Pendanaan Baru Hingga US$ 16 Miliar
Penopang pinjaman
Padahal, perangkat lunak selama ini menjadi tulang punggung pasar leveraged loan. Sektor ini menyumbang sekitar 12% dari total kredit dalam Bloomberg US Leveraged Loan Index. Namun ironisnya, utang perangkat lunak dalam collateralized loan obligations (CLO) justru mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun berjalan, menurut data Nomura.
Aksi jual ini mencolok karena bertolak belakang dengan kondisi pasar pinjaman secara umum. Di Amerika Serikat dan Eropa, penjualan leveraged loan justru melonjak, didorong meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menarik ancaman tarif terkait Greenland. Perusahaan lain memanfaatkan momentum tersebut untuk masuk ke pasar, sementara utang perangkat lunak justru ditinggalkan.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar pinjaman. Obligasi perusahaan perangkat lunak ikut tertekan. Harga surat utang Rackspace Technology Global Inc dan CDK Global penyedia perangkat lunak untuk dealer mobil turun seiring meningkatnya kehati-hatian investor. Situasi ini muncul menjelang potensi lonjakan pembiayaan proyek AI bulan depan, yang diperkirakan bisa mendorong penerbitan obligasi korporasi AS ke rekor baru.
Kekhawatiran utama pasar cukup jelas, AI berpotensi memungkinkan perusahaan dan individu membangun perangkat lunak mereka sendiri, tanpa bergantung pada produk siap pakai. Peluncuran Claude Cowork oleh Anthropic, yang mampu membangun aplikasi dan menyusun spreadsheet layaknya asisten digital, menjadi contoh konkret bagaimana AI bisa memangkas kebutuhan akan perangkat lunak tradisional.
Masalahnya, menurut Ari Lefkovits dari Delos Capital, bukan semata pada bisnis. Banyak transaksi di sektor teknologi lima tahun lalu dihargai dengan asumsi pertumbuhan tinggi yang kini tak terwujud. Kenaikan suku bunga dalam beberapa tahun terakhir memperparah tekanan, karena perusahaan harus menanggung beban bunga yang jauh lebih mahal.
Dengan pasar kredit global yang masih panas dan rencana pembiayaan besar-besaran untuk proyek AI di depan mata, tekanan terhadap utang perangkat lunak tampaknya belum akan mereda. Bagi investor, euforia kredit kini berubah menjadi seleksi ketat dan sektor perangkat lunak sedang berada di garis depan ujian tersebut.
Baca Juga: KKR Gandeng Singtel Akuisisi ST Telemedia, Valuasi Mencapai S$ 13 Miliar












