Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BERLIN. Pekan ini pasar global menyoroti Jerman. Serangkaian data ekonomi akan menguji apakah ekonomi terbesar di Eropa itu benar-benar memasuki fase pemulihan, atau sekadar menikmati jeda singkat setelah tertekan tarif dagang era Donald Trump dan problem struktural yang tak kunjung tuntas.
Indikator sentimen bisnis dari Ifo Institute akan menjadi pembuka. Analis memperkirakan ekspektasi dan penilaian kondisi terkini dunia usaha naik tipis, mengikuti perbaikan survei manajer pembelian (PMI).
Dalam laporan Bloomberg (22/2), kantor statistik Jerman pada Rabu akan merinci pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV-2025 yang naik 0,3%. Sebelumnya, kenaikan itu ditopang belanja rumah tangga dan pemerintah. Bundesbank juga menyoroti perbaikan industri dan lonjakan konstruksi.
Rebound industri menjadi kunci. Selama beberapa tahun terakhir, output Jerman stagnan bahkan menyusut. Pesanan pabrik yang melonjak pada Desember mengindikasikan belanja besar untuk infrastruktur dan pertahanan mulai mengalir ke sektor riil. Jika tren ini berlanjut, Jerman berpeluang keluar dari fase lost momentum yang lama membayangi.
Bagi Kanselir Jerman Friedrich Merz, momentum ini krusial. Ia menghadapi tekanan pelaku usaha untuk memangkas birokrasi dan meningkatkan daya saing. Tanpa reformasi struktural, tambahan belanja negara berisiko hanya menjadi stimulus jangka pendek.
Baca Juga: Jerman Percaya Beban Tarif Bakal Lebih Ringan Setelah MA Batalkan Tarif Trump
Bloomberg Economics memperkirakan pertumbuhan Jerman masih terbatas yakni 0,2% pada kuartal I-2026 dan 0,3% pada kuartal II. Akselerasi baru diperkirakan muncul di paruh kedua 2026, saat belanja infrastruktur dan pertahanan memberi dampak lebih kuat. Secara tahunan, pertumbuhan 2026 diproyeksikan 0,8%, naik dari 0,3% pada 2025. Artinya, pemulihan ada tetapi tipis.
Ketidakpastian lain datang dari potensi hengkangnya Christine Lagarde sebelum masa jabatannya di European Central Bank berakhir. ECB sukses menurunkan inflasi dan mulai membuka jalan pemulihan zona euro. Pergantian mendadak di pucuk pimpinan bisa memicu gejolak baru, sekaligus memaksa Berlin menentukan sikap soal calon presiden ECB berikutnya.
Di luar Eropa, agenda data global juga padat. Di AS, inflasi produsen diperkirakan melunak setelah melonjak di akhir 2025. Pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve akan menjadi petunjuk arah suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Jerman Minta Kepastian Perjanjian Dagang UE-AS Usai Putusan Tarif Mahkamah Agung AS












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)