Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China disebut sebagai ancaman nyata bagi keamanan kawasan, sekaligus dinilai bersikap munafik karena mengklaim menjunjung tinggi prinsip perdamaian Piagam PBB.
Pernyataan tegas ini disampaikan Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung, sebagai respons atas pidato diplomat tertinggi China di ajang Munich Security Conference.
Melansir Reuters, China memandang Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai bagian dari wilayahnya. Namun pemerintah di Taipei menolak klaim tersebut dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam pidatonya di konferensi keamanan tahunan itu pada Sabtu (14/2), memperingatkan bahwa sejumlah negara berupaya “memisahkan Taiwan dari China”. Ia juga menyalahkan Jepang atas meningkatnya ketegangan di sekitar Taiwan serta menekankan pentingnya menjunjung tinggi Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Taiwan: Kedaulatan Tak Pernah Milik Beijing
Dalam pernyataan resminya, Lin Chia-lung menegaskan bahwa baik dilihat dari fakta sejarah, realitas objektif, maupun hukum internasional, kedaulatan Taiwan tidak pernah menjadi milik Republik Rakyat China.
Menurut Lin, Wang Yi membanggakan komitmen China terhadap tujuan Piagam PBB sekaligus menyalahkan negara lain atas ketegangan regional. Namun, kata dia, tindakan Beijing justru bertolak belakang dengan pernyataannya.
Baca Juga: Ribuan Tentara Gugur: Kim Jong Un Balas Jasa dengan Cara Ini
“China dalam beberapa waktu terakhir terlibat dalam provokasi militer di wilayah sekitar dan berulang kali secara terbuka melanggar prinsip Piagam PBB yang melarang penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan,” ujar Lin.
Ia menilai hal itu kembali menunjukkan pola pikir hegemonik yang tidak sejalan antara ucapan dan tindakan.
Militer China sendiri beroperasi hampir setiap hari di sekitar Taiwan dan terakhir menggelar latihan perang besar-besaran di dekat pulau itu pada Desember lalu.
Pejabat tinggi Taiwan seperti Lin tidak diundang menghadiri Munich Security Conference.
Sengketa Sejarah Usai Perang Dunia II
Beijing menyatakan Taiwan “dikembalikan” ke China oleh Jepang pada akhir Perang Dunia II pada 1945. Menurut China, mempertanyakan hal itu sama saja dengan menantang tatanan internasional pascaperang dan kedaulatan China.
Namun pemerintah Taiwan menegaskan bahwa pulau tersebut diserahkan kepada Republik China, bukan Republik Rakyat China yang saat itu belum berdiri. Karena itu, menurut Taipei, Beijing tidak memiliki dasar hukum untuk mengklaim kedaulatan atas Taiwan.
Tonton: Tekanan AS-Israel Picu Harga Minyak
Pemerintahan Republik China sendiri melarikan diri ke Taiwan pada 1949 setelah kalah dalam perang saudara melawan pasukan komunis pimpinan Mao Zedong. Hingga kini, Republik China masih menjadi nama resmi Taiwan.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)