Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Tingkat keyakinan atau sentimen konsumen di Australia kembali mencatatkan penurunan pada bulan Juni 2026.
Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis pada hari Selasa (9/6), kemerosotan ini dipicu oleh lonjakan biaya pinjaman (suku bunga) serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian mencekik keuangan rumah tangga.
Di sisi lain, proyeksi pasar terhadap sektor properti juga terpantau mulai mendingin.
Baca Juga: Ekonomi Korea Selatan Tumbuh 1,8% pada Kuartal I-2026, Lebih Tinggi dari Estimasi
Survei yang dilakukan oleh Westpac-Melbourne Institute menunjukkan bahwa indeks utama sentimen konsumen melorot sebesar 2,9% pada bulan Juni ke level 80,6.
Sebagai catatan, angka indeks di bawah 100 menandakan bahwa jumlah kelompok pesimis jauh lebih mendominasi dibandingkan kelompok optimis di dalam pasar.
"Berada di level 80,6, pembacaan indeks bulanan terbaru ini kembali masuk dalam jajaran rekor terlemah yang pernah terlihat dalam 50 tahun sejarah berjalannya survei ini," ujar Matthew Hassan, Kepala Peramalan Makroekonomi Australia di Westpac.
Kombinasi Suku Bunga Tinggi, Harga BBM, dan Kebijakan Pajak Baru
Anjloknya optimisme masyarakat Australia dinilai merupakan akumulasi dari tiga faktor tekanan utama yang terjadi secara bersamaan:
1. Kebijakan Moneter Agresif RBA
Sentimen pasar domestik terpukul keras oleh langkah Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang telah menaikan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026 demi meredam laju inflasi.
2. Guncangan Harga Energi Global
Konflik militer yang berkepanjangan di Timur Tengah berimbas langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya memicu kenaikan tajam harga bensin di pom bensin lokal Australia.
3. Rencana Reformasi Pajak Properti
Hassan menambahkan bahwa kekhawatiran baru mulai muncul di sektor perumahan. Penurunan tajam pada ekspektasi harga rumah mengindikasikan bahwa konsumen mulai resah terhadap dampak dari kebijakan pajak baru yang diumumkan pemerintah.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis Selasa (9/6): Brent ke US$ 94,38 & WTI ke US$ 91,41
Bulan lalu, Pemerintah Partai Buruh Australia resmi mengumumkan proposal untuk memangkas insentif potongan pajak pada pembelian rumah untuk disewakan (buy-to-rent).
Padahal, skema tersebut selama ini menjadi salah satu instrumis investasi paling populer bagi masyarakat kelas menengah di Australia.
Prospek Ekonomi Jangka Panjang Kian Meredup
Tekanan biaya hidup yang kian mendominasi membuat ekspektasi masyarakat terhadap kondisi keuangan keluarga dalam beberapa waktu ke depan jatuh sangat tajam.
Tidak hanya itu, pandangan konsumen terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Australia dalam jangka panjang juga terpantau makin buram.
Baca Juga: AS Masukkan Alibaba, Baidu, dan BYD ke Daftar Hitam Korporasi Penyokong Militer China
Hal ini tercermin dari pergerakan beberapa sub-indeks di bawah ini:
- Sub-indeks Waktu yang Tepat untuk Membeli Barang Mewah/Besar (Time to Buy a Major Item): Meskipun merangkak naik tipis ke level 86,4, angka ini masih tertinggal sangat jauh di bawah rata-rata historis jangka panjangnya yang berada di level 123,0. Hal ini menandakan warga menahan belanja non-primer.
- Sentimen Sektor Perumahan: Mayoritas konsumen mulai memangkas dan menurunkan ekspektasi mereka terhadap potensi kenaikan harga properti di masa mendatang, mencerminkan pasar real estat yang mulai memasuki fase jenuh dan melandai.













