Sumber: Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - ISLAMABAD/ISTANBUL. Pakistan resmi menjamu delegasi tingkat tinggi dari Turki, Mesir, dan Arab Saudi pada Minggu (29/3) sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran.
Diskusi awal difokuskan pada proposal krusial: pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Para menteri luar negeri dari tiga kekuatan regional tersebut telah mendarat di Islamabad di tengah peringatan keras Iran kepada Amerika Serikat (AS) agar tidak meluncurkan serangan darat.
Ketegangan ini telah memicu lonjakan harga minyak global seiring berkecamuknya pertempuran antara Iran, AS, dan Israel dalam satu bulan terakhir.
Sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan kepada Reuters bahwa negara-negara yang bertemu di Pakistan telah menyodorkan sejumlah proposal kepada Washington.
Baca Juga: Diplomasi Perang Iran, Pakistan Jadi Tuan Rumah Perundingan Arab Saudi, Turki & Mesir
Inisiatif ini mencakup regulasi lalu lintas maritim dan pembukaan kembali Selat Hormuz guna menstabilkan arus pengiriman.
Sebagai catatan, Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi sekitar seperlima (20%) pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Namun, Iran efektif menghentikan arus pelayaran di sana sebagai respons atas serangan udara AS dan Israel yang dimulai sebulan lalu.
Skema Tarif ala Terusan Suez
Pakistan, yang berbagi perbatasan dengan Iran seperti halnya Turki, memanfaatkan kedekatan hubungannya dengan Teheran dan Washington untuk menjadi saluran diplomatik utama.
Di sisi lain, Ankara dan Kairo juga memainkan peran strategis dalam negosiasi ini.
Baca Juga: Lobi Anwar Ibrahim berhasil, Iran Izinkan Kapal-Kapal Malaysia Melintas Selat Hormuz
Sumber dari Pakistan menyebutkan bahwa salah satu proposal, termasuk usulan dari Mesir, telah diteruskan ke Gedung Putih sebelum pertemuan hari Minggu.
Proposal tersebut mencakup struktur biaya pelintasan serupa dengan skema tarif Terusan Suez.
Dua sumber Pakistan lainnya menambahkan bahwa Turki, Mesir, dan Arab Saudi berpotensi membentuk konsorsium untuk mengelola aliran minyak melalui jalur perairan tersebut.
Mereka pun telah mengajak Pakistan untuk berpartisipasi. Rencana pembentukan konsorsium manajemen ini dilaporkan telah dibahas dengan pihak AS maupun Iran.
Bahkan, sumber pertama mengungkapkan bahwa Panglima Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, telah menjalin kontak reguler dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, guna membahas stabilitas kawasan.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Ganggu Produksi LNG dan Minyak, Harga Energi Melonjak
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Mesir dan Pakistan tidak menanggapi permintaan komentar. Demikian pula kantor media pemerintah Arab Saudi dan Gedung Putih yang belum memberikan jawaban segera.
Sementara itu, sumber diplomatik Turki menekankan bahwa prioritas Ankara adalah mengamankan gencatan senjata.
"Menjamin jalur aman bagi kapal-kapal dapat berfungsi sebagai langkah pembangunan kepercayaan (confidence-building measure) yang penting dalam kaitan ini," ujar sumber yang meminta anonimitas tersebut.
Sebelumnya pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengadakan pertemuan bilateral terpisah dengan sejawatnya dari Turki dan Mesir.
Dalam pertemuan tersebut, Dar menekankan pentingnya dialog dan keterlibatan diplomatik yang berkelanjutan.
Secara terpisah, melalui unggahan di media sosial X, Dar menyatakan bahwa Iran telah sepakat untuk mengizinkan 20 unit kapal tambahan berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz.













