Reporter: Barratut Taqiyyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
BRUSSELS. Tingkat konsumsi batubara global saat ini tengah menuju penurunan terbesar dalam sejarah. Salah satu pemicunya adalah upaya China dalam mengatasi polusi, reformasi ekonomi, dan upaya lain yang mempromosikan energi terbarukan.
Data yang dirilis Greenpeace menunjukkan, penggunaan global batubara turun 2,3% hingga 4,6% pada sembilan bulan pertama 2015 dibanding periode yang sama tahun lalu. Itu artinya, terjadi penurunan sebesar 180 juta ton batubara standar.
Laporan ini mengonfirmasi bahwa upaya untuk mengatasi pemanasan global memiliki dampak signifikan terhadap industri batubara. Industri ini digadang-gadang merupakan sumber utama penyebab emisi karbon.
"Tren ini menunjukkan, booming batubara global dalam dekade pertama dari abad 21 hanyalah hayalan belaka," jelas Lauri Myllyvirta, aktivis batubara dan energi Greenpeace.
Penurunan penggunaan batubara akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang dituding menjadi penyebab pemanasan bumi.
Menurut Greenpeace, untuk membatasi kenaikan temperatur global menjadi 2 derajat celcius (3,6 derajat Fahrenheit), emisi dari batubara harus dipangkas 4% per tahunnya hingga 2040 mendatang.
Kondisi di China
Di China, penggunaan batubara di sektor energi melorot lebih dari 4% pada kuartal pertama. Sementara, tingkat impor turun 31%.
Sejak akhir 2013, pertumbuhan konsumsi listrik di Negeri Panda ini sudah digantikan dengan pembangkit energi terbarukan.
"Industri batubara sering memprediksi China akan terus menambah pembangkit energi batubara yang baru setiap minggu sebagai bukti permintaan batubara akan naik di masa yang akan datang. Namun realitanya cukup berbeda. Kapasitas utilisasi dari pembangkit batubara terus menurun. China saat ini hanya menambah satu pembangkit energi batubara per minggu yang tidak digunakan," jelas laporan tersebut.
Penggunaan batubara global
Di Amerika, penggunaan batubara untuk energi listrik diprediksi akan turun menjadi 36% tahun ini dari 50% satu dekade lalu. Lebi dari 200 pembangkit energi batubara dengan kapasitas 83 gigawatts, akan dipensiunkan.
Selain itu, konsumsi batubara di 28 negara Uni Eropa juga bergerak flat dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Pada tahun lalu, konsumsi batubara di Benua Biru mengalami penurunan rekor sebesar 6,4%.
Di India, produksi batubara domestik mengalami kenaikan, dengan tingkat penjualan oleh Coal India naik sebesar 7% pada sembilan bulan pertama 2015. Adapun tingkat konsumsinya naik 5%.
Namun, upaya India untuk mempromosikan energi terbarukan juga memangkas tingkat permintaan untuk batubara. Bahkan, cadangan batubara di negara tersebut meningkat tajam.