Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI/LONDON. Pemerintah Iran mulai membuka kembali akses internet internasional setelah hampir 90 hari pembatasan yang diberlakukan di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Langkah ini disambut gembira oleh masyarakat yang selama berbulan-bulan terisolasi dari dunia luar akibat pembatasan ketat dan sensor internet.
Menurut laporan media pemerintah Iran, Presiden Masoud Pezeshkian telah mengeluarkan perintah untuk memulihkan akses internet global. Keputusan tersebut diumumkan setelah periode pemadaman panjang yang sebelumnya diberlakukan sebagai bagian dari respons keamanan nasional.
Pemulihan Internet Bertahap Setelah Pemadaman Panjang
Pemadaman internet pertama kali diberlakukan pada 8 Januari di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang meluas di seluruh negeri. Kelompok hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa kerusuhan tersebut menewaskan ribuan orang.
Akses internet kemudian dipulihkan secara bertahap pada Februari, sebelum kembali dibatasi menyusul eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa mekanisme dan jadwal penuh pemulihan koneksi internet global masih belum diumumkan secara rinci. Artinya, proses normalisasi akses digital kemungkinan akan berlangsung bertahap di berbagai wilayah.
Baca Juga: Lonjakan Harga Aluminium Akibat Konflik Timur Tengah Bebani Industri Tenaga Surya AS
Warga Sambut Kembalinya Internet
Setelah berbulan-bulan terputus dari dunia digital, warga Iran menyambut kembalinya akses internet dengan penuh kegembiraan. Media sosial kembali menjadi ruang komunikasi utama yang sebelumnya hilang akibat pemblokiran.
Seorang mahasiswa teknik bernama Kian Galvani menulis di akun X miliknya:
“Saya belum pernah sebahagia ini dalam hidup saya hanya karena melihat notifikasi Telegram.”
Sementara itu, seorang editor Iran, Alireza Jafarzadeh, mengungkapkan melalui Instagram:
“Pemadaman internet terlama dalam sejarah dunia telah berakhir, salam setelah 88 hari.”
Komentar lain juga datang dari warga yang menggambarkan kembali aktifnya kehidupan digital sebagai momen penting setelah masa isolasi panjang.
Pemerintah: Akses Internet Adalah Hak Masyarakat
Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran, Seyyid Sattar Hashemi, menyampaikan bahwa masyarakat Iran berhak mendapatkan komunikasi yang bebas dan ekonomi yang dinamis.
Ia juga menambahkan, sebagaimana dikutip media pemerintah: “Rakyat Iran berhak atas komunikasi yang bebas, masa depan yang cerah, dan ekonomi yang dinamis.”
Baca Juga: Samsung Rencanakan Pembangunan Pabrik Uji Chip Senilai US$1,5 Miliar di Vietnam
Hashemi menegaskan bahwa komitmen presiden untuk membuka kembali akses internet merupakan tanda pendekatan yang lebih rasional dan keberpihakan kepada masyarakat.
Dampak Ekonomi: Bisnis Digital Terpukul Keras
Pemadaman internet berkepanjangan tidak hanya membatasi kebebasan digital, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap sektor ekonomi, terutama pelaku usaha kecil yang bergantung pada media sosial seperti Instagram dan Telegram.
Seorang programmer Iran yang hanya disebut dengan nama depan “Keyumars” mengatakan bahwa banyak pelaku usaha kehilangan sumber pendapatan mereka selama pemadaman berlangsung.
Ia menjelaskan bahwa banyak bisnis yang sebelumnya berjalan secara digital kini terpuruk akibat tidak dapat beroperasi.
“Mereka kehilangan segalanya selama pemadaman ini dan harus memulai lagi dari bawah nol, sambil menanggung utang besar, kerugian, dan kehilangan pelanggan,” ujarnya.
Konektivitas Masih Tidak Stabil
Direktur lembaga pemantau internet NetBlocks, Alp Toker, menyebutkan bahwa proses pemulihan akses internet di Iran masih berlangsung dan dapat memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu di beberapa provinsi.
Ia juga menyoroti bahwa konektivitas masih belum stabil, dengan beberapa platform seperti WhatsApp masih tidak dapat diakses tanpa penggunaan VPN.
Baca Juga: Hong Kong Kuasai Aset Offshore Dunia, Geser Dominasi Swiss
Menurutnya, dampak sosial dari pembatasan ini sangat besar, termasuk kesulitan masyarakat untuk berkomunikasi dengan keluarga dan dunia luar.
“Bisnis terdampak, usaha kecil menderita, dan orang-orang tidak dapat berhubungan dengan orang-orang terdekat mereka. Ada juga perasaan tertinggal, karena banyak hal telah terjadi di dunia,” katanya.
Harapan Warga di Tengah Ketidakpastian
Meski akses internet mulai dipulihkan, banyak warga Iran masih menyimpan kekhawatiran terhadap kemungkinan pembatasan serupa di masa depan. Mereka menilai bahwa akses terhadap internet yang stabil dan terbuka merupakan kebutuhan penting di era digital.
Seorang warga Iran, Alireza Naji, menuliskan pandangannya di media sosial X:
“Kami masih jauh dari versi internet kelas dunia yang layak didapatkan rakyat Iran… aktivitas sipil dan sosial di tengah kegelapan ini adalah denyut nadi keberlangsungan hidup kami.”













