Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelanggan komersial energi surya di Amerika Serikat menghadapi lonjakan biaya instalasi seiring meningkatnya harga aluminium global akibat konflik di Iran yang mengganggu rantai pasok. Kondisi ini memperburuk tekanan finansial pada industri yang sebelumnya sudah terbebani oleh tingginya harga perak.
Aluminium merupakan material penting dalam komponen struktur (racking system) panel surya, seperti rel, penjepit, dan bracket yang berfungsi menopang modul di lapangan.
Gangguan pada fasilitas pengolahan di kawasan Teluk serta hambatan pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur penting yang mengalirkan lebih dari 5 juta metrik ton aluminium per tahun—telah mendorong harga acuan aluminium di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 15% sejak akhir Februari.
Sementara itu, kontrak berjangka aluminium di COMEX, bursa berjangka Chicago, tercatat melonjak lebih dari 30%.
Jim Wood, CEO SEG Solar Inc., mengatakan bahwa kenaikan biaya sudah mulai dirasakan di proyek-proyek energi surya.
Baca Juga: Samsung Rencanakan Pembangunan Pabrik Uji Chip Senilai US$1,5 Miliar di Vietnam
“Saya melihat sekitar kenaikan 20% pada harga jual racking di berbagai proyek tenaga surya. Saya memperkirakan beberapa proyek dengan margin yang sangat tipis—terutama yang memiliki tingkat pengembalian yang ketat—akan terhenti atau tidak berjalan,” ungkapnya.
Menurut U.S. Geological Survey (USGS), Amerika Serikat mengimpor lebih dari 5 juta metrik ton aluminium pada 2025. Kanada memasok lebih dari 50% kebutuhan tersebut, sementara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menyumbang sekitar 12% impor aluminium AS.
Namun karena sebagian besar harga aluminium mengacu pada harga global, risiko pasokan dari kawasan Teluk juga berdampak pada harga impor dari Kanada.
Derek Schnee, konsultan senior energi surya di JK Renewables, menjelaskan bahwa pasar aluminium sangat terintegrasi secara global.
“Amerika Serikat dan Kanada beroperasi dalam pasar yang sangat terintegrasi secara global, sehingga produsen Kanada akan menyesuaikan harga mereka mengikuti kenaikan harga global.”
Kenaikan harga aluminium ini terjadi di tengah pertumbuhan pesat industri tenaga surya di AS, termasuk meningkatnya permintaan dari pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI hyperscaler).
Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan pengembang akan menambah kapasitas pembangkit surya skala utilitas sebesar 43,4 gigawatt (GW) pada 2026, atau naik sekitar 60% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Drone Ukraina Masuk Wilayah Udara Baltik, Ketegangan NATO-Rusia Meningkat
Namun, lonjakan biaya peralatan berpotensi mengurangi tingkat profitabilitas proyek-proyek tersebut.
Selain itu, sektor energi terbarukan juga menghadapi tekanan tambahan dari tarif impor panel surya serta kebijakan pemerintahan Trump yang lebih memprioritaskan energi fosil dibandingkan energi terbarukan.
Biaya Aluminium Mengalir ke Proyek Energi Surya
Menurut Linda Zeng, analis senior sektor tenaga listrik dan energi terbarukan di BMI (unit Fitch Solutions), aluminium menyumbang sekitar 9%–10% dari total biaya proyek melalui komponen struktur dan sistem penyangga.
Sementara itu, Ben Damiani, Chief Technology Officer Cherry Street Energy, menjelaskan dampak kenaikan biaya per unit panel.
“Dengan asumsi modul 500 watt, secara umum rangka aluminium menyumbang sekitar 10 dolar AS per modul pada harga tahun 2025. Aluminium biasanya setara sekitar 0,02 dolar AS per watt atau 10 dolar AS per panel, namun dapat meningkat 50% menjadi sekitar 0,03 dolar AS per watt atau 15 dolar AS akibat kendala pasokan,” katanya.
Baca Juga: Hong Kong Kuasai Aset Offshore Dunia, Geser Dominasi Swiss
“Jadi, untuk kapasitas 500 gigawatt, hal ini dapat menyebabkan kenaikan biaya sebesar 5 miliar dolar AS,” tambahnya.
Sebagai catatan, 1 gigawatt energi listrik dapat memasok sekitar 750.000 rumah.
Para ahli menilai bahwa kenaikan kecil pada biaya per watt dapat berdampak besar ketika diterapkan pada skala proyek energi surya yang sangat besar.
Derek Schnee juga memperingatkan bahwa kenaikan biaya ini akan berdampak langsung pada konsumen.
“Saya memperkirakan dampak biaya ini akan langsung dirasakan konsumen pada kuartal ketiga dan keempat 2026,” ujarnya, merujuk pada kemungkinan kenaikan biaya yang diteruskan ke pengguna akhir komersial seperti pengembang pembangkit listrik skala besar, gedung perkantoran, pusat data, dan pabrik.













