Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (27/5/2026), setelah turun lebih dari 5% menyusul laporan media pemerintah Iran yang menyebut adanya draf awal kerangka tidak resmi kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas kapal tanker yang melintasi jalur strategis tersebut, yang mengindikasikan potensi meredanya ketegangan di kawasan. Faktor ini lebih dominan dibandingkan pernyataan Iran sebelumnya yang menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata serta insiden ledakan pada sebuah kapal tanker di lepas pantai Oman.
Minyak Brent dan WTI Kompak Melemah
Harga minyak mentah Brent tercatat turun sebesar 3,66 dolar AS atau 3,7% menjadi 95,92 dolar AS per barel pada pukul 13.05 GMT (20:00 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami penurunan lebih tajam sebesar 5,19 dolar AS atau 5,59% menjadi 88,70 dolar AS per barel.
Baca Juga: Iran Buka Akses Internet Setelah 88 Hari Pembatasan Ketat, Warga Sambut Sukacita
Penurunan tersebut bahkan menghapus seluruh kenaikan Brent pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu, Brent dan WTI sempat menyentuh level terendah intraday masing-masing di 94,16 dolar AS dan 87,77 dolar AS per barel, yang merupakan level terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir.
Sentimen Pasar Dipengaruhi Isu Geopolitik
Analis PVM, Tamas Varga, menyebutkan bahwa terdapat perkembangan yang cukup nyata menuju meredanya krisis pasokan, seiring meningkatnya jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz.
“Inilah alasan tekanan penurunan kembali terjadi,” ujarnya, merujuk pada pelemahan harga minyak.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Amerika Serikat akan menarik pasukan militernya dari sekitar wilayah Iran serta mencabut blokade angkatan lautnya. Selain itu, pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz disebut akan dilakukan oleh Iran dengan kerja sama Oman.
Seorang analis UBS, Giovanni Staunovo, menambahkan bahwa pasar masih sangat reaktif terhadap berbagai berita utama.
“Pasar terus bereaksi terhadap berita-berita yang muncul,” katanya.
Baca Juga: Lonjakan Harga Aluminium Akibat Konflik Timur Tengah Bebani Industri Tenaga Surya AS
Ia juga menilai belum ada indikasi kuat bahwa perkembangan terbaru berbeda dari informasi yang beredar sejak akhir pekan. Menurutnya, pihak Iran sendiri belum mengindikasikan bahwa kesepakatan akan segera terjadi, sementara arus minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas sehingga menekan level persediaan minyak global.
Ketegangan Geopolitik Masih Membayangi Pasar Energi
Pada sesi sebelumnya, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juli sempat naik 3,6% setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru di Iran. Kondisi ini sempat meredam optimisme pasar yang sebelumnya muncul terkait peluang kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Israel juga meningkatkan intensitas serangan udara di Lebanon, yang semakin menambah ketidakpastian upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Setelah gencatan senjata pada April dalam konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan, kedua pihak sempat menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya telah mengeluarkan lebih dari 14 juta barel per hari pasokan minyak Timur Tengah dari pasar global. Kondisi ini menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling krusial dalam rantai pasokan energi dunia.













