CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.016,00   11,88   1.18%
  • EMAS971.000 -0,31%
  • RD.SAHAM -1.86%
  • RD.CAMPURAN -0.70%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Konsumsi Melambatt Imbas Pembatasan, Bank Sentral China Memangkas Suku Bunga Acuan


Senin, 17 Januari 2022 / 13:20 WIB
Konsumsi Melambatt Imbas Pembatasan, Bank Sentral China Memangkas Suku Bunga Acuan
ILUSTRASI. People's Bank of China. REUTERS/Jason Lee/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. People's Bank of China (PBOC) menurunkan suku bunga utama untuk pertama kali dalam kurung dua tahun terakhir. Langkah ini bertolak belakang dengan berbagai langkah bank sentral di berbagai negara yang tengah bersiap naikkan suku bunga acuannya. 

Pengumuman pemangkasan suku bunga 10 basis poin (bps) oleh POBC dilakukan sesaat sebelum otoritas merilis data produk domestik bruto (PDB) China yang tumbuh 4% pada kuartal terakhir tahun 2021, mengutip Bloomberg, Senin (17/1).

Pengeluaran konsumen turun signifikan pada Desember 2021 karena pemerintah memperketat kontrol virus di beberapa bagian negara. Merebaknya kasus virus varian omicron pada awal 2022, makin mengekang sentimen.

“Pertumbuhan akan terus terbebani oleh sektor properti dan tentu saja kebijakan nol-Covid yang akan dilanjutkan China. Angka penjualan ritel masih cukup menunjukkan bahwa kebijakan nol-Covid masih dikenakan pada konsumen, dan kami belum melihat pemulihan yang kami lihat di sektor industri,” ujar Sian Fenner, ekonom utama Asia di Oxford Economics.

Sian Fenner menilai perekonomian China telah mengalami guncangan secara berulang pada paruh kedua 2021. Mulai dari kekurangan listrik, default dari krisis perumahan dan properti yang bergerak lambat, dan wabah Covid-19 yang berulang. 

Baca Juga: Banyak Pembatasan, Produksi Baja di China Turun Pertama Kali dalam 6 Tahun

Inilah yang menjadi pertimbangan bank sentral meningkatkan dukungannya terhadap perekonomian dengan memangkas suku bunga kebijakan dan meningkatkan likuiditas.

Pemotongan suku bunga oleh People's Bank of China Senin melebihi ekspektasi pasar dan membuatnya bertentangan dengan bank sentral utama lainnya seperti Federal Reserve, yang sedang bersiap untuk menaikkan suku bunga. 

Tingkat fasilitas pinjaman jangka menengah satu tahun diturunkan menjadi 2,85% dari 2,95% dan tingkat pembelian kembali tujuh hari diturunkan menjadi 2,1% dari 2,2%.

PBOC juga menyuntikkan lebih banyak likuiditas dengan menawarkan 700 miliar yuan ($ 110 miliar) pinjaman MLF, melebihi 500 miliar yuan yang jatuh tempo, dan menambahkan 100 miliar yuan dengan reverse repo tujuh hari, lebih dari 10 miliar yang jatuh tempo.

Sepanjang 2021, perekonomian China tumbuh 8,1%, jauh di atas target pemerintah 6%. Lonjakan perdagangan global membantu perekonomian terbesar kedua itu. Fata minggu lalu menunjukkan ekspor dari China naik ke rekor US$3,36 triliun pada tahun 2021.

Adapun Output industri naik 4,3% year on year (yoy) di bulan Desember, dibandingkan perkiraan median 3,7%. Selama setahun penuh, naik 9,6%.

Adapun penjualan ritel meningkat 1,7% yoy di bulan Desember dari 3,9% di bulan November dan dibandingkan dengan perkiraan 3,8%. Total penjualan naik 12,5% di tahun ini

Investasi aset tetap naik 4,9% yoy pada tahun 2021. Investasi properti naik 4,4%, investasi infrastruktur naik 0,4% dan pengeluaran di sektor manufaktur naik 13,5%

Tingkat pengangguran naik menjadi 5,1% pada akhir Desember dari 5% pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Ekonomi China Tumbuh 8,1% Sepanjang Tahun 2021

Ekonomi tumbuh 1,6% secara kuartal-ke-kuartal dalam tiga bulan terakhir tahun ini, lebih cepat dari 0,7% yang direvisi dalam tiga bulan sebelumnya

Prospek untuk tahun 2022 masih belum jelas, dengan perkiraan permintaan global yang melambat, varian omicron masih menyebar di dalam dan luar negeri, dan krisis pasar perumahan yang dimulai dengan China Evergrande Group belum terlihat. 

Ekonom Goldman Sachs telah memangkas perkiraan pertumbuhan tahun ini untuk China menjadi 4,3% karena meningkatnya kesulitan untuk menahan varian virus yang sangat menular.

Beijing telah menjadikan "stabilitas" ekonomi sebagai prioritas tahun ini menjelang pertemuan di musim gugur di mana Presiden Xi Jinping diperkirakan akan dikukuhkan sebagai pemimpin lagi, menunjukkan bahwa pemerintah akan mengambil lebih banyak langkah stimulus untuk memacu pertumbuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×