Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Para penggemar setia merek keripik Jepang, Wasabeef, harus gigit jari. Lantaran perusahaan tersebut memutuskan untuk menghentikan sementara produksi keripik tersebut.
Keputusan tersebut mendapat keluhan dari sejumlah konsumen Wasabeef, khusus menggunakan internet, lantaran penghentian produksi disebabkan oleh kekurangan minyak goreng akibat konflik di Timur Tengah.
Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz yang vital telah memicu kekhawatiran akan dampak berantai terhadap harga jual barang di Jepang.
Namun, berita tentang penangguhan produksi dari merek keripik tersebut merupakan salah satu dampak nyata pertama bagi konsumen.
Baca Juga: PBB Selidiki Serangan Mematikan di Sekolah Iran, 168 Anak Tewas
Setelah berita tersebut menyebar, "Wasabeef" dari Yamayoshi Seika menjadi kata kunci yang paling banyak dibicarakan ketiga di Jepang di platform media sosial X, dengan nama perusahaan tersebut tidak jauh di belakangnya.
"Saya tidak pernah menyangka penutupan Selat Hormuz akan mengakibatkan penghentian produksi Wasabeef," tulis pengguna @JoshuaGboyega5 di X seperti dikutip dari Reuters.
"Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa Wasabeef!" kata dia.
CEO Satoshi Kada mengatakan bahwa pemasok minyak dari Yamayoshi Seika telah memperingatkan pada awal Maret tentang kenaikan harga yang diperkirakan sebesar 20% hingga 30%. Segera setelah hal tersebut diungkapkan, pemasok minyak tersebut tidak dapat lagi mengirimkan pasokan apa pun.
"Kami tidak punya pilihan selain menghentikan pabrik," katanya kepada Reuters, menambahkan bahwa ia "tidak tahu kapan produksi dapat dilanjutkan."
Yamayoshi Seika, yang didirikan pada tahun 1953, menyebut Wasabeef sebagai "merek nasional" yang dicirikan oleh perpaduan rasa wasabi dan sari daging sapi yang gurih.
Baca Juga: Israel Klaim Kepala Keamanan Iran Ali Larijani Tewas dalam Serangan
Perusahaan tersebut memiliki penjualan bulanan sekitar 400 juta hingga 500 juta yen (2,5 juta hingga 3 juta dolar AS), kata Kada.
Jepang, yang bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 95% pasokan minyak mentahnya, minggu ini mulai melepaskan sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan strategisnya untuk mengurangi gangguan.













