Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai Motor, memperingatkan meningkatnya ketidakpastian bisnis global akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini disampaikan setelah perusahaan melaporkan penurunan laba operasional sebesar 31% pada kuartal pertama 2026.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (23/4), Hyundai mencatat laba operasional sebesar 2,5 triliun won atau sekitar US$1,7 miliar untuk periode Januari–Maret 2026, turun dari 3,6 triliun won pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini sejalan dengan proyeksi analis.
Penurunan tersebut mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap industri otomotif global, terutama akibat gangguan rantai pasok dan meningkatnya biaya produksi. Sebelumnya, Hyundai mengungkapkan bahwa ekspor ke Eropa dan Afrika Utara—yang umumnya melewati kawasan Timur Tengah—terganggu akibat konflik yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Industri Makanan Hewan Lokal China Melejit, Merek Global Kian Terdesak
Chief Financial Officer Hyundai, Lee Seung-jo, menyatakan bahwa ketidakpastian di industri otomotif global kini mencapai level tertinggi. Faktor pemicu mencakup perang di Timur Tengah, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta berbagai risiko makroekonomi lainnya.
Tekanan Biaya dan Gangguan Rantai Pasok
Hyundai menyebut tarif impor AS sebesar 15% serta gangguan logistik akibat konflik telah menekan kinerja keuangan kuartal pertama. Selain itu, kenaikan harga bahan baku seperti baja, nikel, lithium, dan platinum turut membebani perusahaan dengan dampak sekitar 200 miliar won terhadap laba.
Bersama afiliasinya, Kia Corporation, Hyundai saat ini merupakan grup otomotif terbesar ketiga di dunia berdasarkan volume penjualan. Namun, kondisi geopolitik global menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan pertumbuhan industri.
Pasar Timur Tengah Terganggu
CEO Hyundai, Jose Munoz, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat sepenuhnya menggantikan penurunan penjualan di Timur Tengah dengan pasar lain dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan keterbatasan kapasitas produksi dan distribusi.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Rusia Tembus Rekor di Tengah Sanksi Barat dan Perang Ukraina
Munoz juga menegaskan bahwa Timur Tengah merupakan pasar dengan margin keuntungan tertinggi bagi Hyundai, meskipun kontribusinya terhadap total volume penjualan tidak dominan. Pada 2025, ekspor ke Timur Tengah dan Afrika menyumbang sekitar 8% dari total penjualan grosir Hyundai.
Penjualan Tumbuh Berkat Kendaraan Hybrid
Di tengah tekanan biaya, Hyundai masih mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 3,4% pada kuartal pertama. Kinerja ini ditopang oleh meningkatnya permintaan kendaraan hybrid, yang menyumbang sekitar 18% dari total pengiriman.
Lonjakan harga bahan bakar global mendorong konsumen beralih ke kendaraan yang lebih efisien, termasuk mobil listrik dan hybrid. Di pasar Amerika Serikat, penjualan kendaraan hybrid Hyundai bahkan mencapai hampir seperempat dari total penjualan perusahaan di negara tersebut.
Ke depan, Hyundai memperkirakan tantangan akan tetap berlanjut seiring ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Perusahaan menekankan pentingnya strategi adaptif untuk menjaga kinerja di tengah tekanan yang semakin kompleks terhadap rantai pasok dan biaya produksi global.












