Lima Bank Rusia Hadapi Sanksi dari Inggris dan Amerika Serikat

Jumat, 25 Februari 2022 | 16:31 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Lima Bank Rusia Hadapi Sanksi dari Inggris dan Amerika Serikat

ILUSTRASI. The logo of Russian bank Otkritie . REUTERS/Maxim Shemetov

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pemerintahan Inggris dan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap lima bank Rusia, di antaranya merupakan bank BUMN. Sanksi diberikan setelah Rusia melancarkan serangan militer ke Ukraina. 

Departemen Keuangan AS akan memberi sanksi kepada Sberbank dan VTB yang merupakan bank terbesar di Rusia. Sanksi selanjutnya akan dijatuhkan kepada Otkritie, Sovcombank dan Novikombank dan beberapa eksekutif senior di bank-bank milik negara.

"Lebih dari 100 individu, entitas, dan anak perusahaan pada akhirnya akan dikenai sanksi," kata pemerintah AS, dilansir dari Reuters, Jumat (25/2). 

Tak hanya itu, bank-bank Amerika juga akan memutuskan hubungan korespodensi dengan mereka. Hal ini memungkinkan adanya pemindahan transaksi pembayaran serta pemberikan pinjaman kepada Sberbank dalam waktu 30 hari. 

Langkah ini dinilai efektif untuk mengeluarkan bank - bank Rusia dari sistem keuangan AS, melarang perdagangan dengan orang Amerika serta membukan aset mereka di Amerika. 

Baca Juga: Perkuat Sanksi Kepada Rusia, Jepang Akan Menyetop Ekspor Semikonduktor Untuk Militer

Sanksi ini juga menargetkan dua bank BUMN Belarusia, Belinvestbank dan Bank Dabrabyt karena mendukung serangan Moskow. 

Sanksi AS datang segera setelah pemerintah Inggris mengatakan akan memberlakukan pembekuan aset pada semua bank besar Rusia, termasuk VTB, dan menghentikan perusahaan besar Rusia pada akses keuangan di Inggris.

Bank Rusia akan terputus dari pasar pounsterling dan pembayaran kliring. Inggris juga mengumumkan pembekuan aset dan larangan perjalanan kepada anggota elit politik dan keuangan Rusia, termasuk mereka yang telah lama menikmati gaya hidup yang berkembang pesat di London.

Inggris sebelumnya memberlakukan sanksi hanya pada tiga miliarder yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan lima pemberi pinjaman yang relatif kecil.

Menteri luar negeri Eropa awal pekan ini setuju untuk memberikan sanksi kepada 27 individu dan entitas, termasuk bank yang membiayai pembuat keputusan Rusia dan operasi di wilayah yang memisahkan diri di Ukraina, tetapi bukan pemberi pinjaman terbesar.

Washington telah menjatuhkan sanksi pada Promsvyazbank dan bank VEB.

Amerika Serikat juga telah meningkatkan larangan utang negara Rusia, yang menurut Presiden AS Joe Biden akan memotong akses pemerintah Rusia dari pembiayaan negara barat.

Bank-bank besar Rusia sangat terintegrasi ke dalam sistem keuangan global, yang berarti sanksi apa pun terhadap institusi terbesar dapat dirasakan jauh di luar perbatasannya.

Departemen Keuangan AS mengatakan sanksi hari Kamis akan mengganggu transaksi valuta asing harian senilai miliaran dolar yang dilakukan oleh lembaga keuangan Rusia. 

Secara keseluruhan, lembaga-lembaga ini melakukan transaksi valas senilai sekitar US$ 46 miliar, 80% di antaranya dalam dolar. Sebagian besar transaksi itu sekarang akan terganggu. 

Baca Juga: Dampak Invasi ke Ukraina, Kekayaan Miliarder Asal Rusia Ikut Melorot

Sanksi tersebut menargetkan hampir 80% dari semua aset perbankan di Rusia. Sberbank mengatakan bahwa mereka siap untuk setiap perkembangan yang terjadi. 

VTB mengatakan telah bersiap untuk skenario paling parah. "Kami telah bekerja melalui beberapa rencana untuk melawan sanksi dengan cara meminimalkan konsekuensi negatif bagi klien kami," katanya dalam sebuah pernyataan.

Sovcombank, Otkritie dan Novikombank tidak segera membalas permintaan komentar. Kedutaan Rusia di Amerika Serikat juga tidak segera membalas permintaan komentar.

Sanksi baru yang sedang dipersiapkan para pemimpin Uni Eropa termasuk pembekuan aset Rusia, menghentikan akses bank-banknya ke pasar keuangan dan menargetkan kepentingan Rusia. 

Apa yang paling ditakuti oleh bank dan kreditor barat adalah bahwa Rusia dilarang dari sistem pembayaran global, SWIFT, yang digunakan oleh lebih dari 11.000 lembaga keuangan di lebih dari 200 negara.

Langkah seperti itu akan memukul bank-bank Rusia dengan keras tetapi konsekuensinya kompleks. Melarang SWIFT akan mempersulit kreditur Eropa untuk mendapatkan uang mereka kembali.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan bekerja dengan sekutu untuk mematikan akses Rusia ke SWIFT. Tetapi beberapa sumber Uni Eropa sebelumnya mengatakan bahwa penguncian Rusia dari SWIFT tidak mungkin disepakati pada tahap ini.

Analis mengatakan institusi Rusia lebih mampu mengatasi sanksi daripada delapan tahun sebelumnya, meskipun itu tidak berarti mereka tidak akan dirugikan.

Institute of International Finance, kelompok perbankan internasional terbesar, mengatakan sanksi AS terhadap Rusia akan memiliki dampak yang cukup besar pada ekonomi dan warga Rusia dan dapat menyebabkan resesi.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru