Mahathir Mohamad: Sungguh Sebuah Keajaiban Saya Masih Hidup

Kamis, 31 Maret 2022 | 08:02 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Mahathir Mohamad: Sungguh Sebuah Keajaiban Saya Masih Hidup

ILUSTRASI. Mahathir Mohamad, mengira dia tidak akan hidup lebih lama ketika dia dilarikan ke National Heart Institute (IJN) pada Januari. REUTERS/Lim Huey Teng


KONTAN.CO.ID - PETALING JAYA. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohamad, mengira dia tidak akan hidup lebih lama ketika dia dilarikan ke National Heart Institute (IJN) pada Januari. Hal tersebut dia ungkapkan dalam pidato pada Senin (28/3/2022).

Melansir The Star, Mahathir yang juga merupakan seorang dokter, mengatakan dia tidak tahu bagaimana tim medis berhasil membantunya mendapatkan kembali kesehatannya.

"Bagi saya, ini adalah keajaiban. Saya tidak berharap untuk hidup, saya berharap saya akan mati karena saya sudah tua dan juga menderita penyakit serius yang mempengaruhi ... jantung saya," jelasnya.

Dia menambahkan, “Ketika jantung lemah, hal itu mempengaruhi paru-paru dan ketika paru-paru lemah, hal ini mempengaruhi ginjal dan sebagainya. Tetapi entah bagaimana, para dokter membalikkan kondisi saya dan akhirnya saya dipulangkan dan saya cukup sehat - tidak 100%, tetapi cukup bagi saya untuk melanjutkan pekerjaan kecil yang harus saya lakukan," katanya saat upacara penghargaan untuk tim ahli medis dan staf yang telah merawatnya.

Baca Juga: Mantan PM Malaysia Mahathir Diizinkan Pulang Setelah Dirawat di Rumah Sakit

Acara yang digelar di Yayasan Kepimpinan Perdana di Putrajaya pada hari Senin direkam dan diunggah ke akun YouTube-nya.

Dr Mahathir mengatakan Malaysia telah membuat kemajuan luar biasa, terutama di sektor medis. Dia yakin orang Malaysia mampu melakukan apa yang bisa dilakukan orang lain.

"Ini adalah sesuatu yang sangat kami banggakan karena tidak perlu pergi ke tempat lain. Di Malaysia, kita memiliki spesialis untuk menangani kasus seperti saya yang sangat serius," tambahnya.

Dr Mahathir mengatakan bahwa ketika dia menderita serangan jantung pertamanya pada tahun 1989, dia diberitahu untuk pergi ke Mayo Clinic di Amerika Serikat, tetapi dia memilih untuk dirawat di Rumah Sakit Kuala Lumpur.

"Saya juga dilatih sebagai dokter dan ketika saya memulai praktik saya pada 1950-an dan awal 1960-an, tidak ada pekerjaan untuk dokter Malaysia, terutama dokter Melayu," ceritanya. 

Baca Juga: Lagi, Bekas PM Malaysia Mahathir Mohamad Masuk ke Rumah Sakit Jantung

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru