kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45863,16   -14,36   -1.64%
  • EMAS920.000 -0,86%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Makin parah, kematian akibat Covid-19 di India kembali di atas 4.000 untuk hari kedua


Kamis, 13 Mei 2021 / 12:56 WIB
Makin parah, kematian akibat Covid-19 di India kembali di atas 4.000 untuk hari kedua
ILUSTRASI. lebih dari 4.000 orang India meninggal karena Covid-19 untuk hari kedua berturut-turut

Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India kembali mencatatkan lebih dari 4.000 kematian Covid-19 untuk hari kedua berturut-turut pada hari Kamis (13/5). Sementara itu, infeksi harian baru tetap di bawah 400.000 untuk hari keempat, meskipun virus corona telah merajalela di daerah pedesaan, di mana kasus-kasus dapat tidak dilaporkan karena kurangnya pengujian.

Menurut data Kementerian Kesehatan, India memiliki 362.727 infeksi Covid-19 baru selama 24 jam terakhir. Sementara tingkat kematian bertambah 4.120 dalam periode yang sama.

Lonjakan infeksi telah disertai dengan perlambatan vaksinasi, meskipun Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan bahwa vaksinasi akan terbuka untuk semua orang dewasa mulai 1 Mei.

Dua negara bagian, Karnataka, yang mencakup pusat teknologi Bengaluru, dan Maharashtra, yang mencakup Mumbai, telah mengumumkan akan menghentikan sementara vaksinasi untuk penduduk berusia 18-44 tahun. Ini dilakukan karena pemerintah memprioritaskan penduduk yang berusia di atas 45 tahun, yang membutuhkan dosis kedua.

India yang juga merupakan produsen vaksin terbesar di dunia, persediaannya menipis karena permintaan yang sangat besar. Berdasarkan data pemerintah, India telah melakukan vaksin penuh terhadap lebih dari 38,2 juta orang, atau sekitar 2,8% dari populasi negara yang mencapai 1,35 miliar per Kamis. 

Baca Juga: Kasus kematian akibat Covid-19 di India melonjak, belum ada tanda-tanda mereda

Sementara itu, para ahli kesehatan tetap tidak yakin kapan angka kasus baru akan mencapai puncaknya. Terlebih kekhawatiran berkembang tentang penularan varian yang mendorong infeksi di India dan menyebar ke seluruh dunia.

Bhramar Mukherjee, seorang profesor epidemiologi di Universitas Michigan, mengatakan sebagian besar model telah memperkirakan puncaknya minggu ini dan bahwa negara tersebut dapat melihat tanda-tanda tren itu.

Namun, jumlah kasus baru setiap hari cukup besar untuk membebani rumah sakit, kata dia di Twitter. "Kata kuncinya adalah optimisme hati-hati."

Situasinya sangat buruk di daerah pedesaan Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India dengan populasi lebih dari 230 juta. Gambar-gambar televisi menunjukkan keluarga-keluarga yang menangisi orang mati di rumah sakit pedesaan atau berkemah di bangsal untuk merawat orang sakit.

Mayat-mayat telah terdampar di Sungai Gangga, sungai yang mengalir melalui negara bagian, karena krematorium kewalahan dan kayu untuk pembakaran kayu bakar yang kian menipis. 

"Statistik resmi tidak memberi Anda gambaran tentang pandemi dahsyat yang mengamuk di pedesaan Uttar Pradesh itu," tulis aktivis terkenal dan politisi oposisi Yogendra Yadav di The Print.

“Ketidaktahuan yang meluas, kurangnya fasilitas pengujian yang dekat atau memadai, batasan resmi dan tidak resmi pada pengujian dan penundaan yang berlebihan dalam laporan pengujian berarti bahwa di desa demi desa, hampir tidak ada yang diuji, sementara sejumlah orang mengeluhkan 'demam aneh'," jelas Yadav.

 

Selanjutnya: Indonesia mencoba bertahan dari tiga kiris besar yang melanda

 




TERBARU

[X]
×