kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45857,18   -5,26   -0.61%
  • EMAS917.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.15%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Manufaktur Asia dilanda kenaikan biaya akibat merebaknya Covid-19 varian Delta


Senin, 02 Agustus 2021 / 21:30 WIB
Manufaktur Asia dilanda kenaikan biaya akibat merebaknya Covid-19 varian Delta

Reporter: Amanda Christabel | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Industri manufaktur di Asia mengalami masa sulit pada Juli 2021, karena kenaikan biaya input dan gelombang baru infeksi virus Covid-19 telah membayangi permintaan global dan mengancam pemulihan dari kawasan tersebut.

Aktivitas manufaktur meningkat di sektor ekspor Jepang dan Korea Selatan, meskipun pelaku industri \tengah kesulitan mendapatkan rantai pasokan dan kekurangan bahan baku sehingga mendorong kenaikan biaya.

Dilansir dari Reuters, pertumbuhan aktivitas pabrik di China merosot tajam pada Juli karena permintaan berkontraksi untuk pertama kalinya dalam tempo lebih dari setahun. 

Baca Juga: Varian Delta menyebar ke lebih dari 20 kota di China, jutaan penduduk terkunci

"Keterlambatan pasokan tetap menjadi kendala. Tetapi PMI menunjukkan permintaan juga membaik, namun telah kenaikan harga dan membebani aktivitas di industri manufaktur dan konstruksi," kata Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics.

Aktivitas pabrik di Indonesia, Vietnam dan Malaysia terlihat menyusut di Juli karena bertambahnya kasus corona, dan pembatasan kegiatan masyarakat akibat Covid-19 menjadi lebih ketat.

Survei ini menyoroti perbedaan yang muncul di seluruh ekonomi global pada laju pemulihan dari ketegangan yang disebabkan oleh pandemi, yang menyebabkan Dana Moneter Internasional menurunkan perkiraan pertumbuhan tahun ini untuk negara berkembang Asia.

"Risikonya adalah dampak terhadap pertumbuhan bertahan lebih lama bahkan jika aktivitas pulih dalam beberapa bulan mendatang," kata Frederic Neumann, Co-head Asian Economics Research di HSBC.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Caixin/Markit Manufacturing China turun menjadi 50,3 pada Juli dari 51,3 pada Juni 2021. Hal ini menandakan level terendah dalam 15 bulan, karena kenaikan biaya mengaburkan prospek pusat manufaktur dunia.

Baca Juga: Partai Republik AS: Ada banyak bukti virus corona berasal dari kebocoran lab di Wuhan

Jepang juga menghadapi lonjakan kasus varian Delta yang telah memaksa pemerintah untuk memperluas pembatasan darurat ke wilayah yang lebih luas hingga 31 Agustus. Ini juga membayangi Olimpiade dan menghancurkan harapan untuk rebound tajam pada pertumbuhan Juli-September.

PMI Korea Selatan berdiri di 53,0 pada bulan Juli, bertahan di atas angka 50 yang menunjukkan ekspansi aktivitas untuk 10 bulan berturut-turut. Tetapi sub-indeks pada harga input naik pada rekor tertinggi kedua sebagai tanda ketegangan yang dirasakan perusahaan dari kenaikan biaya bahan baku.

Menggarisbawahi ketegangan pandemi di negara berkembang Asia, PMI Indonesia turun ke 40,1 pada Juli dari 53,5 pada Juni. Aktivitas manufaktur juga menyusut di Vietnam dan Malaysia. Lantaran masih bergulat dengan Covid-19, pelonggaran pembatasan membantu aktivitas pabrik India bangkit kembali pada Juli karena permintaan melonjak, baik di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya: Asia zona merah, rekor kasus Covid-19 di Tokyo, Thailand, dan Malaysia

 




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Virtual Selling: How to win sales remotely Optimasi alur Pembelian hingga pembayaran

[X]
×