kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.049   32,00   0,19%
  • IDX 7.048   -43,45   -0,61%
  • KOMPAS100 972   -4,90   -0,50%
  • LQ45 716   -1,68   -0,23%
  • ISSI 251   -1,25   -0,50%
  • IDX30 389   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 487   -1,85   -0,38%
  • IDX80 110   -0,59   -0,54%
  • IDXV30 135   -0,95   -0,70%
  • IDXQ30 127   0,03   0,02%

Masuk Musim Kemarau, Kabut Asap Parah Mengancam Asia Tenggara


Selasa, 31 Maret 2026 / 15:14 WIB
Masuk Musim Kemarau, Kabut Asap Parah Mengancam Asia Tenggara
ILUSTRASI. Jumlah titik api di seluruh Indonesia dan Malaysia berada pada level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir (Dok/Dinas LHK Sumut)


Sumber: Bloomberg | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Jumlah titik api di seluruh Indonesia dan Malaysia berada pada level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Kondisi ini meningkatkan risiko kondisi kabut asap parah di Asia Tenggara beberapa bulan mendatang.

Bloomberg melaporkan, mengutip Pusat Meteorologi Khusus ASEAN, pada Maret, terdapat 825 titik api di wilayah-wilayah utama penghasil kelapa sawit di kedua negara tersebut.

Lembaga tersebut menganalisis citra satelit yang dapat mendeteksi peningkatan tingkat radiasi inframerah. Algoritma deteksi kebakaran kemudian menguraikan kumpulan data untuk mengidentifikasi titik-titik yang terkait dengan kebakaran.

Baca Juga: Asia Tenggara Darurat Cuaca Ekstrem: Vietnam, Thailand, & Malaysia Dilanda Banjir

Kebakaran hutan dan lahan, serta kabut asap sebagai akibat kebakaran tersebut, merupakan masalah yang hampir terjadi setiap tahun di seluruh Asia Tenggara. Kabut asap mengganggu pariwisata, menyebabkan penyakit pernapasan, dan merugikan perekonomian lokal miliaran dolar.

Krisis paling parah dalam ingatan baru-baru ini terjadi pada tahun 2015. Saat itu, kebakaran yang meluas memicu keadaan darurat kabut asap regional, menyebabkan kerugian sebesar US$ 16 miliar, bahkan memicu ketegangan diplomatik antara negara-negara tetangga.

Kebakaran dapat terjadi secara alami atau akibat pembukaan lahan untuk berbagai tanaman. Di Indonesia dan Malaysia, produsen minyak sawit terbesar di dunia, sebagian besar vegetasi liar dibakar untuk memberi ruang bagi perkebunan baru.

Baca Juga: Kapal Tanker Minyak Raksasa di Lepas Pantai Dubai Dihantam Serangan Iran, Trump Murka

Kedua negara telah melarang penggunaan api untuk membersihkan dan mengelola lahan, penegakannya masih menjadi tantangan. Masalah ini seringkali paling akut selama musim kemarau, biasanya dari April hingga September.

Akibat kemarau, lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar dan api dapat membara di bawah tanah selama berminggu-minggu, sehingga sulit untuk dideteksi dan dipadamkan.

Di Malaysia, bagian utara negara bagian Johor serta Sarawak dan sebagian Sabah mengalami curah hujan di bawah normal sepanjang Maret, menurut Pusat Prediksi Iklim AS.

Sarawak khususnya mengalami kekeringan yang tidak biasa, dengan beberapa daerah mengalami tingkat curah hujan hingga 210 milimeter di bawah normal.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×