kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45903,33   4,58   0.51%
  • EMAS1.313.000 -0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Melewati krisis bermodal sikap konservatif (4)


Jumat, 05 Januari 2018 / 16:06 WIB
Melewati krisis bermodal sikap konservatif (4)


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tri Adi

KONTAN.CO.ID - Berbeda dengan kebanyakan pebisnis lain yang cenderung agresif, Harindarpal S Banga menjadi contoh sosok pebisnis yang cenderung konservatif. Dirinya tidak lantas tergiur ketika lonjakan harga komoditas menyebabkan banyak pebisnis menyemplungkan modalnya ke bisnis tersebut. Perjalanan karier panjang pada bisnis pelayaran, khususnya yang melayani angkutan komoditas, banyak memberikan pelajaran bagi dirinya. Terbukti, pria ini sukses jadi miliarder dunia.

Harindarpal S Banga kini menikmati statusnya sebagai salah satu taipan dunia. Namun semua itu, tidak didapat pria yang akrab disapa Harry ini secara instan. Ia telah banyak makan asam garam di bisnis logistik, perdagangan komoditas, dan sukses malalui banyak tantangan.

Meski Caravel Group, perusahaan yang Banga dirikan tahun  2013 masih tergolong muda, namun perusahan ini sudah mencatatkan kinerja moncer. Pada tahun pertama, Caravel mencetak pendapatan US$ 80 juta. Hingga kemudian melesat menjadi US$ 1,8 miliar, hanya dalam tempo 3 tahun, atau tepatnya pada tahun 2016.

Salah satu kunci kesuksesan cepat Caravel lantaran Banga mencaplok lini usaha manajemen pelayaran Noble Group, perusahaan yang sebelumnya membesarkan namanya. Dari akuisisi itu, ia mendapatkan 800 staf darat, 14.000 pelaut serta 427 unit kapal.

Tapi bukan berarti bisnis Caravel selalu berjalan mulus. Justru Banga memulai usahanya dalam situasi saat itu yang tidak mudah. Industri perkapalan saat itu diterpa resesi yang berat akibat lesunya perdagangan komoditas, ditambah persaingan bisnis pengangkutan yang sangat ketat.

Kelesuan perdagangan komoditas disebabkan oleh perlambatan ekonomi China. Banyak industri di China menurunkan produksinya. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat, perlambatan ekonomi China berefek besar terhadap ekonomi negara lain.

Tak hanya negara tetangga di Asia yang kena getahnya, negara lain yang berbeda benua juga terdampak semisal AS dan Afrika. Tidak sedikit perusahaan yang berbisnis serupa dengan Caravel, terpaksa menyerah, dan memilih menutup usaha.

Namun pengalaman panjang Banga di bisnis pelayaran, menjadi senjata yang berharga. Dia tidak lantas terbawa nafsu untuk kemudian berinvestasi ke sektor lain yang cukup berisiko, meski menggiurkan dari sisi margin.

Sejarah mencatat, harga komoditas yang sebelumnya menunjukan peningkatan luar biasa, mendorong banyak pengusaha menginvestasikan uangnya ke sektor itu. Namun kemudian harga komoditas longsor, yang berujung pada kerugian bagi banyak investor.

Prinsip kehati-hatian menjadi salah satu prioritas Banga dalam mengembangkan Caravel. Dia mendirikan lini bisnis asset management, untuk mengamankan dan mengembangkan aset yang dimilikinya. Perusahaan ini fokus berinvestasi di tempat yang aman dan memberikan keuntungan secara jangka panjang.

Banga sadar, komoditas sering kali menawarkan imbal yang sangat tinggi dalam jangka waktu pendek, namun mendadak tiba-tiba melorot dan berujung pada kerugian. Oleh sebab itu, dia memperhatikan betul keamanan masalah pengelolaan aset. Tindakan Banga yang cenderung konservatif, terbukti menyelamatkannya dari masa-masa sulit saat awal Caravel berdiri. Termasuk setelah melihat peningkatan pada pertumbuhan ekonomi di China.

Tak dipungkiri, bisnis Caravel memang masih sangat bergantung dengan kondisi di China. Sebab, sekitar 70% transaksi Caravel terkait dengan perusahaan yang berasal dari China sebagai konsumen utama komoditas dunia.

Dengan prinsip kehati-hatian serta memaksimalkan potensi yang ada di sekitar, Caravel bisa mencatatkan pertumbuhan bisnis yang stabil. Dari modal awal US$ 800 juta, kini Caravel tumbuh menjadi perusahaan multinasional yang memiliki aset US$ 20 miliar.

Banga mengklaim, Caravel merupakan perusahaan perdagangan dan logistik terbesar ketiga di dunia. Selain itu, perusahaannya juga menjadi pemasok bijih besi terbesar ke China, dengan volume 40 juta ton per tahun.                  

(Selesai)




TERBARU

[X]
×