kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -7.000   -0,38%
  • USD/IDR 16.565   0,00   0,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Melihat kehidupan keturunan Jawa dan Muslim di Suriname


Minggu, 20 September 2020 / 12:30 WIB
Melihat kehidupan keturunan Jawa dan Muslim di Suriname


Penulis: Virdita Ratriani

Pada akhir tahun 1970-an, sejumlah kecil keturunan Jawa telah berhasil menyandang gelar kesarjanaan dalam bidang teknik, hukum, kedokteran, ekonomi, fisika dan theologi. Namun secara umum, mereka tetap tidak tertarik melakukan kegiatan-kegiatan bisnis. 

Hanya beberapa yang telah berhasil sebagai pengusaha toko, angkutan dan restoran. Bidang politik ternyata juga menarik perhatian mereka. 

Masyarakat Jawa terkotak-kotak oleh adanya beberapa partai yang dipimpin oleh orang-orang yang memiliki pengaruh kuat, dan tidak didasarkan pada ideologi yang jelas. Pada Pemilu 1977, partai-partai Jawa secara bersama-sama berhasil memperoleh 4 kursi di parlemen. 

Pada 1979, dua orang keturunan Jawa berhasil menduduki jabatan menteri dan seorang lainnya menjabat deputi menteri. Lalu di 1991, dalam masa Pemerintahan Presiden Venetiaan, tiga jabatan menteri dipegang oleh keturunan Indonesia (Jawa). 

Baca Juga: Inilah profil Didi Kempot, sang penyanyi campursari legendaris

Muslim di kalangan masyarakat Jawa Suriname 

Kalangan Muslim asal Jawa di Suriname hingga sekarang masih terkotak-kotak dalam beberapa kelompok, yaitu : 

  1. Kelompok yang sudah maju umumnya yang tergabung dalam organisasi SIS (Stichting Islamitische Gemeente in Suriname). Masjidnya sudah mengikuti arah kiblat yang benar (mengarah ke timur/kabah). Masjid yang bergabung dengan organisasi tersebut tersebar di desa-desa. Beberapa masjid terkenal dan dikelola keturunan Indonesia antara lain Masjid Nabawi di Paramaribo, Masjid Namiroh di Lelydorp, dan Mesjid Darul Falah di Blauwgrond. 
  2. Kelompok ortodoks yang masih melestarikan dan memegang teguh adat istiadat para leluhurnya dari Indonesia (Jawa). Kiblat masjidnya masih ke Barat seperti nenek moyangnya sewaktu shalat di Jawa. Golongan ini umumnya tinggal di desa-desa atau pedalaman, dan tergabung dalam FIGS (Federatie Islamitische Gemeente Suriname). 
  3. Kelompok yang masih melestarikan adat istiadat Jawa tetapi arah kiblatnya sudah mengarah ke Timur atau Kabah. Mereka tergabung dalam organisasi PJIS (Persatuan Jama'ah Islam Suriname). 

Selanjutnya: Vatikan pertimbangkan tahbiskan pria menikah jadi Imam di wilayah Amazon


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×