Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengatakan bahwa larangan ekspor minyak atau bahan bakar AS kecil kemungkinannya dapat membantu menurunkan harga energi bagi konsumen di tengah situasi perang Iran.
"Kami akan mempertimbangkan larangan ekspor jika kami berpikir hal itu benar-benar dapat menurunkan harga, namun kenyataannya tidak demikian," ujar Burgum kepada para wartawan di sela-sela pertemuan energi G20 di Houston seperti dilansir Reuters, Selasa (15/9/2026).
Burgum, pejabat yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump, mengatakan bahwa larangan ekspor minyak, bensin, atau solar dapat memicu tindakan balasan dari negara lain, yang pada gilirannya dapat merugikan konsumen di negara bagian seperti California, yang sebagian bergantung pada impor energi.
Baca Juga: Asian Games 2026, Korea Selatan Protes Ke Jepang Karena Masalah Kasur
"Kita berhenti mengekspor produk, lalu ada pihak yang berkata, 'Kami tidak akan mengekspor ke California,'" kata Burgum.
Burgum menyebutkan bahwa California telah menutup beberapa kilang minyak, langkah yang dalam jangka panjang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di wilayah tersebut.
"California memang sudah memiliki harga bensin dan solar tertinggi di negara ini akibat kebijakan mereka sendiri; kami tentu tidak ingin memperparah kondisi tersebut," ujar Burgum.
Menjelang pemilihan umum sela bulan November yang akan menentukan kendali atas Kongres, pemerintahan Trump memiliki pilihan terbatas untuk menurunkan harga solar—yang baru-baru ini mencetak rekor tertinggi di atas US$ 6 per galon (bahkan lebih tinggi lagi di California)—serta harga minyak dan bensin.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meledak 4,5% Tembus US$109, Ini Biang Keroknya
Gedung Putih sedang mempertimbangkan penggunaan Defense Production Act (Undang-Undang Produksi Pertahanan) dari era Perang Dingin untuk memperluas kapasitas pengilangan minyak AS.














