Sumber: Business Insider | Editor: Noverius Laoli
Sebaliknya, jika OpenAI merupakan perusahaan terbuka, Burry mengaku akan melakukan short. Ia menyoroti valuasi pembuat ChatGPT yang disebut mencapai US$500 miliar pada Oktober lalu, lebih tinggi dari nilai pasar perusahaan besar seperti Johnson & Johnson, Bank of America, dan Costco.
Burry juga mengungkapkan kepemilikan opsi jual (put options) pada saham Oracle, serta mengaku telah melakukan short langsung terhadap perusahaan basis data tersebut dalam enam bulan terakhir.
Ia menilai posisi dan investasi Oracle saat ini tidak masuk akal dan didorong oleh ego manajemen.
Baca Juga: SoftBank Hempaskan Seluruh Saham Nvidia, Apa yang Terjadi?
Lebih jauh, Burry memperingatkan risiko keusangan teknologi di sektor chip. Ia menilai Nvidia kini terlalu sering meluncurkan solusi chip baru, sehingga umur ekonomis produk menjadi semakin pendek. Hal ini berpotensi memicu koreksi nilai aset dan pembukuan ulang di kemudian hari.
Dalam pandangannya yang lebih luas, Burry membandingkan ledakan AI dengan sejarah elektrifikasi dan gelembung transmisi data di awal 2000-an.
Menurutnya, industri tersebut sama-sama ditandai oleh investasi awal yang sangat besar, teknologi yang cepat usang, serta persaingan harga yang brutal.
“AI memang sangat kuat, tetapi juga bisa jauh lebih berbahaya,” tulis Burry, seraya memperingatkan bahwa perlombaan AI yang sangat boros energi bisa menjadi bumerang, terutama jika Amerika Serikat kalah cepat dari China dalam pengembangan kapasitas pembangkit listrik.
Baca Juga: Bursa Asia Berombak Kamis (28/8), Saham Nvidia Turun Pasca Laporan Keuangan
Burry menegaskan, posisinya melawan saham-saham AI bertujuan agar ia berada “di sisi yang tepat ketika musik berhenti” dan euforia pasar akhirnya mereda.













