Sumber: CNA | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Perseteruan internal di City Developments Limited (CDL), salah satu perusahaan properti terbesar di Singapura, meningkat ke ranah hukum setelah Kwek Leng Beng, ketua eksekutif CDL, menggugat anaknya, Sherman Kwek, yang menjabat sebagai CEO grup.
Gugatan ini terkait dengan dugaan pelanggaran tata kelola perusahaan dan upaya pengambilalihan kekuasaan di tingkat dewan direksi.
Gugatan atas Dugaan "Kudeta" di Dewan Direksi
Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu (26 Februari), Kwek Leng Beng menuduh putranya dan sekelompok direktur—termasuk Philip Lee dan Wong Ai Ai—telah melewati komite nominasi CDL untuk melakukan perubahan komposisi dewan direksi tanpa kajian yang layak.
Ia mengungkapkan bahwa dokumen gugatan telah diajukan pada Selasa (25 Februari) guna menangani apa yang ia sebut sebagai “kudeta” dan untuk memulihkan integritas tata kelola perusahaan.
“Saya mempertanyakan urgensi penunjukan dua direktur baru, menekankan bahwa keputusan tata kelola yang signifikan tidak boleh dilakukan secara terburu-buru tanpa uji tuntas dan penyaringan yang tepat,” kata Kwek Leng Beng.
Sementara itu, Sherman Kwek mengecam langkah ayahnya dengan menyebutnya sebagai tindakan yang “ekstrem”, seraya menyatakan bahwa gugatan tersebut tidak mendapat persetujuan mayoritas dewan.
Baca Juga: Teknologi AI Memakan Korban, Bank Terbesar di Asia Tenggara Bakal PHK 4.000 Karyawan
Perselisihan Dimulai Sejak Januari
Ketegangan ini bermula pada 28 Januari, ketika sebuah email dikirim ke dewan direksi yang mencalonkan dua direktur independen baru. Waktu pengiriman, yang bertepatan dengan malam Tahun Baru Imlek, serta upaya percepatan persetujuan, menimbulkan kekhawatiran di kalangan dewan.
Ketua komite nominasi, Chong Yoon Chou, mengaku tidak mengetahui pencalonan tersebut.
Pada 29 Januari, Kwek Leng Beng secara langsung mempertanyakan urgensi penunjukan tersebut. Namun, meskipun ada keberatan, rapat dewan tetap diadakan pada 7 Februari. Tidak ada pemungutan suara yang dilakukan, tetapi beberapa jam kemudian, resolusi tertulis yang menyetujui pengangkatan dua direktur baru disahkan.
Menurut Kwek Leng Beng, hal ini mengindikasikan adanya upaya terencana dari Sherman Kwek dan sejumlah direktur lainnya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di dalam perusahaan.
Serangkaian Keputusan yang Merugikan CDL
Pada 8 Februari, Kwek Leng Beng meminta pemecatan Sherman Kwek sebagai CEO, dengan alasan bahwa insiden ini hanyalah salah satu dari banyak kesalahan yang telah dilakukan di bawah kepemimpinannya.
Ia menyoroti kerugian besar yang diderita CDL selama kepemimpinan Sherman Kwek, termasuk:
- Kerugian sebesar S$1,9 miliar akibat investasi di Sincere Property, Tiongkok, pada 2020
- Hasil investasi yang buruk di properti Inggris
- Penurunan harga saham CDL sejak 2018
Baca Juga: Inflasi Singapura Lebih Rendah dari Proyeksi
Pada awal masa jabatan Sherman Kwek sebagai CEO pada Januari 2018, harga saham CDL berada di kisaran S$12,18. Namun, pada Selasa (25 Februari), harga saham hanya mencapai S$5,12, sebelum akhirnya perdagangan saham dihentikan pada Rabu pagi.
CDL menyatakan bahwa penghentian perdagangan dilakukan karena perselisihan internal di dewan mengenai komposisi dan struktur perusahaan.
Tata Kelola dan Kepentingan Pemegang Saham Dipertaruhkan
Kwek Leng Beng menegaskan bahwa pemecatan putranya bukanlah keputusan yang mudah sebagai seorang ayah, tetapi ia tidak dapat menoleransi pelanggaran tata kelola perusahaan.
“Saya menerima bahwa dalam dunia bisnis, orang muda dapat membuat kesalahan, tetapi melewati aturan tata kelola adalah batas yang tidak boleh dilanggar.”
Jika gugatan Kwek Leng Beng dikabulkan, maka posisi CEO akan dipegang sementara oleh Kwek Eik Sheng, yang saat ini menjabat sebagai Chief Operating Officer CDL dan juga merupakan keponakan Kwek Leng Beng.
Ia juga mendesak para pemegang saham untuk mendukung upayanya memulihkan standar tata kelola perusahaan, dengan memperingatkan bahwa perselisihan ini berisiko merusak reputasi dan stabilitas jangka panjang CDL.
Sherman Kwek: “Langkah Ekstrem”
Sementara itu, Sherman Kwek tetap bertahan sebagai CEO sampai ada resolusi dewan yang menyatakan sebaliknya.
Baca Juga: Ekspor Singapura di Januari Turun 2,1%, Lebih Lemah dari Perkiraan
Ia membantah tuduhan ayahnya dan menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil bertujuan untuk memperkuat tata kelola perusahaan, bukan menggulingkan Kwek Leng Beng.
“Langkah-langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa CDL memiliki standar tata kelola tertinggi, sebagaimana yang dikenal selama ini, serta memastikan proses pengambilan keputusan yang kuat di tingkat dewan,” ujarnya.
Karena kasus ini telah dibawa ke pengadilan, pihak CDL menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan komentar lebih lanjut sampai ada perkembangan material lebih lanjut.