kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

NASA Luncurkan Teleskop Roman, Bidik Misteri Terbesar Alam Semesta


Minggu, 30 Agustus 2026 / 18:43 WIB
NASA Luncurkan Teleskop Roman, Bidik Misteri Terbesar Alam Semesta
ILUSTRASI. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi meluncurkan teleskop antariksa Nancy Grace Roman pada Minggu (30/8/2026).  (NASA/ESA/Thomas Pesquet/Dok.)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - CAPE CANAVERAL Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi meluncurkan teleskop antariksa Nancy Grace Roman pada Minggu (30/8/2026). Observatorium astronomi baru tersebut akan menjalankan misi untuk mengungkap sejumlah misteri terbesar dalam astrofisika dan kosmologi.

Teleskop Nancy Grace Roman, yang menelan biaya sekitar US$4 miliar, diluncurkan dari Kennedy Space Center milik NASA di Florida menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX.

Peluncuran sempat dibayangi kekhawatiran terkait kondisi cuaca. Namun, roket tetap berhasil membawa teleskop menuju luar angkasa di tengah langit biru dengan sejumlah awan yang tersebar.

Teleskop Roman dirancang untuk meneliti sejumlah teka-teki kosmik, termasuk energi gelap (dark energy) dan materi gelap (dark matter). Selain itu, teleskop ini akan menguji teori gravitasi dalam skala sangat besar serta mencari eksoplanet, yakni planet yang berada di luar tata surya.

Menuju Titik Lagrange 2

Setelah diluncurkan, Roman akan melakukan perjalanan menuju lokasi orbit yang dikenal sebagai Lagrange Point 2 (L2), yang berada sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi.

Misi utama teleskop tersebut direncanakan berlangsung selama lima tahun. Namun, NASA memperkirakan Roman masih memiliki bahan bakar yang cukup untuk memperpanjang operasinya hingga lima tahun tambahan.

Baca Juga: Singapura Akan Lelang Barang-Barang Sitaan Kasus Pencucian Uang

Roman akan melengkapi kemampuan observatorium antariksa sebelumnya, termasuk James Webb Space Telescope yang diluncurkan pada 2021 dan Hubble Space Telescope yang telah beroperasi sejak 1990.

Kepala Direktorat Misi Sains NASA, Nicola Fox, menggambarkan kemampuan teleskop Roman sebagai lompatan besar dalam pengamatan alam semesta.

"Seolah-olah Hubble dan James Webb mengintip alam semesta melalui lubang kunci, sementara Nancy Grace Roman akan mendobrak pintunya," kata Fox kepada wartawan pada Sabtu.

Keunggulan utama Roman terletak pada kemampuan mengamati wilayah langit yang sangat luas dalam waktu relatif singkat.

"Roman memiliki sensitivitas dan ketajaman penglihatan yang secara umum sama dengan Hubble, tetapi kami dapat melakukan survei langit jauh lebih cepat," kata Julie McEnery, ilmuwan proyek senior Roman di Goddard Space Flight Center NASA di Maryland.

Menurut McEnery, Roman hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk melakukan survei terhadap seluruh galaksi Bima Sakti.

"Survei galaksi Bima Sakti dengan pengamatan selama satu bulan menggunakan Roman akan membutuhkan waktu sekitar satu abad jika dilakukan dengan Hubble," ujarnya.

Roman Punya Bidang Pandang Lebih Luas

Peluncuran Roman juga melanjutkan perkembangan pengamatan alam semesta yang sebelumnya telah dilakukan James Webb.

Teleskop Webb memberikan berbagai temuan baru mengenai sejarah awal alam semesta. Salah satunya menunjukkan bahwa galaksi-galaksi purba terbentuk lebih cepat dan berukuran lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Webb dapat mengamati objek yang sangat jauh sekaligus melihat kembali ke masa lalu karena cahaya membutuhkan waktu untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Berbeda dengan Webb yang dirancang untuk melakukan pengamatan sangat mendalam dengan tingkat sensitivitas tinggi, Roman memiliki kemampuan mengambil gambaran panorama alam semesta dalam cakupan yang jauh lebih luas.

NASA mengibaratkan Roman sebagai lensa sudut lebar, sementara Webb berfungsi seperti lensa zoom.

"Webb dirancang untuk dapat mengamati alam semesta dengan sangat dalam dan sensitivitas yang luar biasa, sehingga kami dapat menemukan objek-objek langka di alam semesta awal," kata McEnery.

Baca Juga: Atasi Kenaikan Biaya Hidup dan Dukung Dunia Usaha, Malaysia Siapkan Stimulus

Menurutnya, Roman menawarkan "pandangan yang luas untuk melengkapi pengamatan mendalam yang diberikan Webb."

Petakan Lebih dari 2 Miliar Galaksi

Salah satu tujuan utama teleskop Roman adalah membantu ilmuwan memahami dua komponen misterius alam semesta, yakni energi gelap dan materi gelap.

Roman akan menyusun peta tiga dimensi alam semesta paling komprehensif yang pernah dibuat. Survei utama teleskop tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun dan akan mencakup lebih dari 2 miliar galaksi.

Alam semesta diyakini bermula dari peristiwa Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun lalu dan terus mengalami ekspansi sejak saat itu.

Pada 1998, para ilmuwan mengungkap bahwa ekspansi alam semesta ternyata mengalami percepatan. Energi gelap kemudian menjadi salah satu hipotesis utama untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Komposisi alam semesta terdiri atas materi biasa, termasuk bintang, planet, gas, debu, dan berbagai objek yang dikenal manusia, serta materi gelap dan energi gelap.

Materi biasa diperkirakan hanya menyusun sekitar 5% dari keseluruhan alam semesta. Sementara itu, materi gelap yang keberadaannya diketahui melalui pengaruh gravitasinya terhadap galaksi dan bintang diperkirakan mencapai sekitar 27%.

Adapun energi gelap diperkirakan menyumbang sekitar 68% komposisi alam semesta.

NASA berharap pengamatan Roman terhadap pengaruh tarikan materi gelap dan dorongan energi gelap di seluruh alam semesta dapat membawa ilmuwan semakin dekat untuk memecahkan kedua misteri tersebut.

Berburu Ribuan Eksoplanet

Selain mempelajari struktur dan evolusi alam semesta, Roman juga akan menjalankan salah satu pencarian eksoplanet paling komprehensif yang pernah dilakukan.

Teleskop ini diperkirakan mampu menemukan ribuan eksoplanet baru sekaligus menyediakan sensus statistik pertama mengenai sistem planet yang memiliki kemiripan dengan tata surya.

Potensi penemuan baru menjadi salah satu daya tarik terbesar misi tersebut.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Serukan Negara Teluk Bersatu Hadapi Musuh Nyata

"Salah satu aspek paling menarik dari Roman adalah potensi penemuannya. Dalam sejarahnya, observatorium astronomi besar sering kali menghasilkan terobosan paling penting di bidang yang sebelumnya tidak diperkirakan para ilmuwan sebelum peluncuran," kata kosmolog Mustapha Ishak dari University of Texas at Dallas, yang merupakan bagian dari kolaborasi ilmiah Roman, kepada Reuters.

Peluncuran Lebih Cepat dari Jadwal

Peluncuran teleskop Nancy Grace Roman berlangsung setelah proyek tersebut menghadapi tantangan pendanaan selama pemerintahan Presiden Donald Trump.

Pemerintahan Trump, baik pada periode pertama maupun kedua, sempat berupaya mengurangi atau menghapus pendanaan untuk proyek Roman. Namun, Kongres Amerika Serikat mempertahankan pendanaan tersebut.

NASA menyebut peluncuran Roman kali ini berlangsung sekitar sembilan bulan lebih cepat dari jadwal.




TERBARU

[X]
×