Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Di tengah tekanan AS, sikap pemimpin Greenland juga terlihat bergeser. Jika sebelumnya isu kemerdekaan kerap disuarakan, kini mereka menekankan persatuan dengan Denmark.
“Ini bukan saatnya berjudi dengan hak penentuan nasib sendiri, ketika negara lain bicara soal mengambil alih kami,” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen kepada harian Sermitsiaq.
Ia menegaskan, untuk saat ini Greenland tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Pernyataan senada disampaikan Motzfeldt, yang menyebut Greenland memilih tetap bersama Denmark dalam situasi serius ini.
Tekanan Trump juga berbanding terbalik dengan sikap publik Amerika. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 17% warga AS mendukung upaya Trump untuk “mengakuisisi Greenland”.
Baca Juga: Upaya AS Menguasai Greenland Bikin Khawatir dan Takut Penduduk Greenland
Mayoritas responden, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, menolak penggunaan kekuatan militer.
Di Eropa, dukungan kepada Denmark dan Greenland menguat. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan Greenland bisa mengandalkan Uni Eropa.
Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan memperingatkan dampak serius jika kedaulatan negara Eropa diganggu.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyebut ancaman terhadap sesama anggota NATO tidak masuk akal dan bertentangan dengan kepentingan AS sendiri. Prancis juga berencana membuka konsulat di Nuuk pada 6 Februari mendatang.
Pertemuan di Gedung Putih ini pun dipandang sebagai ujian besar bagi hubungan Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland, serta masa depan geopolitik kawasan Arktik.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
