kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Upaya AS Menguasai Greenland Bikin Khawatir dan Takut Penduduk Greenland


Senin, 12 Januari 2026 / 03:05 WIB
Upaya AS Menguasai Greenland Bikin Khawatir dan Takut Penduduk Greenland
ILUSTRASI. Warga Greenland menolak jadi bagian dari Amerika Serikat (Dok./Britannica)


Sumber: Business Insider,BBC,Reuters | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - KOPENHAGEN. Para pemimpin Greenland mengecam upaya Amerika Serikat (AS) menguasai kawasan tersebut. Jumat (9/1) malam, para pemimpin lima partai politik di parlemen Greenland membuat pernyataan bersama untuk menentang rencana Presiden AS Donald Trump tersebut.

"Kami menekankan sekali lagi keinginan kami agar penghinaan AS terhadap negara kami dihentikan. Kami tidak ingin menjadi warga Amerika, kami tidak ingin menjadi warga Denmark, kami ingin menjadi warga Greenland," tulis pernyataan bersama para petinggi parlemen tersebut, yang ditayangkan di media sosial Anggota Parlemen Greenland Jens-Frederik Nielsen, seperti dikutip Reuters, Sabtu (10/1).

Warga kawasan yang kini berada di bawah Kerajaan Denmark ini juga menunjukkan sikap yang sama. "Warga Greenland tidak ingin menjadi warga Amerika," tegas Mia Chemnitz, seorang pebisnis di Greenland, seperti dikutip BBC.

Baca Juga: Diincar Trump, Greenland Tegaskan Kedaulatan dan Perkuat Hubungan dengan AS

Aaja Chemnitz, salah satu dari dua anggota parlemen Denmark yang mewakili Greenland, mengatakan komentar dari pemerintahan Trump adalah ancaman nyata yang membuatnya terkejut. "Sangat tidak sopan pihak AS untuk tidak mengesampingkan kemungkinan mencaplok negara kami dan mencaplok sekutu NATO lainnya," katanya.

Casper Frank Møller, CEO dan salah satu pendiri Raw Arctic, perusahaan pariwisata di Greenland, menyebut dia dan banyak rekannya khawatir tentang bagaimana situasi tersebut dapat memengaruhi keuangan mereka.

"Kami telah berinvestasi dalam mengembangkan aspek pariwisata perusahaan kami, dan sekarang hal itu berisiko karena situasi geopolitik dan ancaman dari Trump, jadi tentu saja kami semua sangat khawatir," kata Møller kepada Business Insider.

Baca Juga: Sejarah Greenland sebagai Wilayah Denmark dan Alasan Trump Ingin Menguasainya

Isu Amerika Serikat ingin menguasai Greenland sejatinya bukan hal yang baru bagi warga wilayah dengan populasi sekitar 57.000 orang ini. Di era pemerintahan Trump pertama, isu ini sudah santer.

Hanya saja, kala itu warga Greenland tidak khawatir. Kini, warga khawatir lantaran melihat apa yang dilakukan Trump pada Venezuela.

Ketika Trump pertama kali mengangkat topik pembelian Greenland pada 2019, Qupanuk Olsen, seorang influencer Greenland, mengatakan kepada Business Insider, dia dan penduduk setempat lainnya mengira itu hanya lelucon.

Baca Juga: Pimpinan Partai Republik Tolak Opsi Militer Trump untuk Ambil Alih Greenland

Dia masih tidak menganggap serius ketika Trump kembali mengangkat pembicaraan tersebut pada akhir 2024. Hal itu berubah ketika Donald Trump Jr. mengunjungi Nuuk pada Januari 2025.

"Saat itulah kami menyadari bahwa kata-kata Trump bukan lagi sekadar kata-kata. Itu nyata, dan dia sungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan," kata Olsen Juni lalu.

Setelah serangan terhadap Venezuela, Møller mengatakan bahwa ancaman Trump untuk mencaplok Greenland terasa jauh lebih realistis dan akan benar-benar terjadi. "Kami ingin Greenland menjadi milik warga Greenland, dan kami tidak untuk dijual. Kami tidak akan diambil alih," kata Møller.

Baca Juga: Diduga Bawa Narkoba Ilegal, Pasukan AS Menyerang Kapal di Lepas Pantai Venezuela

Banyak warga menilai, sulit mengetahui sampai di mana keberanian Trump melakukan sesuatu untuk memperoleh keinginannya. "Saya sering mengatakan ke diri sendiri, tak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. Tetap saja saya khawatir," kata Tupaarnaq Kreutzmann Kleist, seorang penggembala domba, sebagaimana dikutip Business Insider.

Apalagi, AS memang membuka peluang melakukan pengambilalihan Greenland dengan segala cara, termasuk melakukan aksi militer. Kendati begitu, untuk saat ini, Trump masih memilih diplomasi.

Pekan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Luar Denmark dan pejabat dari Greenland. Parlemen Greenland, Inatsisartut, juga akan menggelar pertemuan untuk memastikan hak-hak warga terjamin

Baca Juga: AS Tunda Tarif Chip China hingga 2027: Strategi Baru Perang Dagang?

Sejumlah pakar menilai Denmark akan kesulitan mempertahankan kewenangan di Greenland. Pasalnya, warga Greenland sejatinya sudah menginginkan kemerdekaan dari Denmark sejak 1979 silam.

Olsen menyebut, minat AS terhadap Greenland setidaknya memiliki satu efek positif. Hal ini mendorong warga Greenland untuk berpikir lebih serius tentang tempat mereka di dunia dan kebutuhan untuk berbicara untuk diri mereka sendiri.

"Itu adalah pengingat yang sangat penting bagi semua orang di Greenland, karena tiba-tiba kami perlu memiliki pendapat apakah kami masih ingin tetap berada di bawah Denmark, apakah kami harus merdeka, atau apakah kami harus menjadi negara bagian di bawah Amerika Serikat," kata Olsen.

Selanjutnya: Promo Superindo Weekday 12-15 Januari 2026, Minyak & Nugget Rp 37.000-an


Tag


TERBARU

[X]
×