kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Diincar Trump, Greenland Tegaskan Kedaulatan dan Perkuat Hubungan dengan AS


Selasa, 06 Januari 2026 / 14:21 WIB
Diincar Trump, Greenland Tegaskan Kedaulatan dan Perkuat Hubungan dengan AS
ILUSTRASI. Greenland menyatakan keinginannya untuk memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS), namun menegaskan bahwa warganya tidak perlu khawatir (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - KOPENHAGEN. Greenland menyatakan keinginannya untuk memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS), namun menegaskan bahwa warganya tidak perlu khawatir akan adanya pengambilalihan wilayah oleh Negeri Paman Sam dalam waktu dekat.

Pernyataan ini disampaikan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen pada Senin (5/1), menyusul kembali mencuatnya minat Presiden AS Donald Trump terhadap pulau Arktik tersebut.

Pernyataan Nielsen muncul di tengah meningkatnya perhatian negara-negara Eropa terhadap isu kedaulatan Greenland.

Kekhawatiran tersebut dipicu oleh operasi militer AS yang berujung pada penangkapan pemimpin Venezuela, sehingga menimbulkan spekulasi bahwa Greenland, wilayah otonom Denmark dapat menghadapi skenario serupa.

Baca Juga: Penjualan Mobil AS Naik 2% pada 2025, Tahan Terhadap Tekanan Regulasi

“Kami tidak berada dalam situasi di mana kami berpikir bahwa pengambilalihan negara bisa terjadi dalam semalam,” ujar Nielsen dalam konferensi pers di ibu kota Nuuk, yang disampaikan melalui penerjemah. “Anda tidak bisa membandingkan Greenland dengan Venezuela. Kami adalah negara demokratis,” tegasnya.

Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa AS mengambil alih Venezuela yang kaya minyak untuk sementara waktu. Ia juga berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk menguasai Greenland.

Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic pada Minggu (4/1), Trump mengatakan, “Kami memang membutuhkan Greenland, mutlak. Kami membutuhkannya untuk pertahanan.”

Kepada wartawan di pesawat Air Force One pada Senin dini hari, Trump menyebut akan kembali membahas isu Greenland dalam beberapa pekan ke depan.

Menanggapi pernyataan tersebut, Nielsen menulis di akun Facebook-nya pada Minggu malam, “Sudah cukup… Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi.”

Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen. Ia menilai pernyataan Trump tidak bisa dianggap remeh. “Sayangnya, saya pikir presiden Amerika Serikat harus dipandang serius ketika ia mengatakan ingin Greenland,” ujarnya kepada penyiar publik DR.

Frederiksen menegaskan bahwa Kerajaan Denmark telah menyampaikan sikapnya secara jelas, dan Greenland berulang kali menyatakan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Greenland merupakan pulau terbesar di dunia dengan populasi sekitar 57.000 jiwa. Meski bukan anggota independen NATO, Greenland berada di bawah payung keanggotaan Denmark dalam aliansi militer Barat tersebut, di mana AS juga menjadi anggota utama.

“Jika Amerika Serikat menyerang negara NATO lain, maka semuanya akan berhenti,” kata Frederiksen, menegaskan prinsip pertahanan kolektif aliansi tersebut.

Pada bulan lalu, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus AS untuk Greenland. Landry secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap gagasan penggabungan Greenland ke dalam wilayah Amerika Serikat.

Baca Juga: Geger! Trump Sebut Kuba “Siap Runtuh” Usai Penangkapan Maduro

Secara strategis, lokasi Greenland yang berada di antara Eropa dan Amerika Utara menjadikannya titik penting bagi sistem pertahanan rudal balistik AS. Selain itu, pulau ini memiliki sumber daya mineral yang signifikan, sejalan dengan ambisi Washington untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor mineral dari China.

Negara-negara Eropa pun menyatakan dukungan terhadap Denmark dan Greenland. Mereka menegaskan bahwa masa depan pulau Arktik tersebut sepenuhnya berada di tangan rakyat Greenland.

“Greenland dan Kerajaan Denmark harus menentukan masa depan Greenland dan tidak ada pihak lain,” kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Senin.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan bahwa NATO dapat membahas langkah-langkah untuk memperkuat perlindungan Greenland. Uni Eropa juga menegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip kedaulatan nasional dan penentuan nasib sendiri.

Dengan dukungan internasional yang menguat, pemerintah Greenland menegaskan posisinya untuk tetap membuka kerja sama strategis dengan AS, namun tanpa mengorbankan kedaulatan dan kehendak rakyatnya.

Selanjutnya: Hari Pertama Perdagangan di 2026, ICDX Catat Volume Transaksi Senilai Rp 130 Triliun

Menarik Dibaca: Kim Seon-ho dan Go Youn-jung Siap Beri Kejutan Penggemar di Jakarta




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×