Sumber: Yahoo News | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Beberapa jam setelah pasukan Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, Presiden AS Donald Trump tampak langsung mengarahkan perhatiannya ke rezim lain di Amerika Latin: Kuba yang berpaham komunis.
“Kuba terlihat siap untuk runtuh,” ujar Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Minggu.
Melansir Yahoo News, sejak operasi militer semalam di Venezuela pada Jumat, Trump telah mengeluarkan peringatan kepada sejumlah negara dan wilayah lain, termasuk Kolombia, Meksiko, Iran, dan Greenland. Namun, kejatuhan Maduro dinilai paling berdampak langsung bagi Kuba, yang selama ini bertahan hidup berkat bantuan besar-besaran dari sekutunya di Amerika Selatan yang kaya minyak.
“Saya tidak tahu apakah mereka bisa bertahan, tapi Kuba sekarang tidak punya pemasukan,” kata Trump. “Seluruh pemasukan mereka berasal dari Venezuela, dari minyak Venezuela.”
Berikut hal-hal penting untuk memahami perkembangan terbaru di Kuba dan bagaimana pemerintahan Trump kemungkinan berupaya memengaruhi situasi di sana.
Apa yang dikatakan Trump dan pejabat AS tentang Kuba?
Saat ditanya mengenai kemungkinan intervensi militer AS di Kuba, Trump menyatakan hal itu tidak diperlukan karena “kelihatannya sudah akan jatuh”.
“Saya rasa kita tidak perlu melakukan apa pun,” tegasnya.
Baca Juga: Investor Berburu Aset Aman Usai Penangkapan Maduro: Emas Rekor, Perak Meroket 7%
Ketua Komite Intelijen DPR AS dari Partai Republik, Rick Crawford, juga menyuarakan teori efek domino tersebut. Ia menyebut penangkapan Maduro sebagai “awal dari akhir” bagi Kuba.
“Kuba dan Venezuela memiliki hubungan simbiosis sejak lama. Kuba membutuhkan minyak Venezuela. Kini sumber daya itu tidak lagi tersedia,” kata Crawford. “Sangat mungkin akan muncul pemberontakan rakyat di sana.”
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, politikus keturunan Kuba yang dikenal keras terhadap Havana, memberi sinyal bahwa Washington mungkin tidak sepenuhnya pasif.
“Jika saya tinggal di Havana dan bekerja di pemerintahan, saya pasti akan sedikit khawatir,” ujar Rubio.
Dalam wawancara dengan NBC, Rubio mengatakan para pemimpin Kuba “sedang berada dalam masalah besar”.
“Saya tidak akan membicarakan langkah atau kebijakan kami ke depan saat ini,” kata Rubio. “Namun bukan rahasia bahwa kami bukan penggemar rezim Kuba.”
Mengapa Kuba dan Venezuela saling terkait?
Hubungan AS dan Kuba memburuk sejak Fidel Castro berkuasa. Selama puluhan tahun, Uni Soviet menjadi penyokong utama Kuba. Setelah Uni Soviet runtuh, Hugo Chávez membangun revolusi sosialis di Venezuela, mirip dengan yang dilakukan Castro.
Aliansi baru pun terbentuk.
Selama sekitar 25 tahun terakhir, Chávez dan kemudian Maduro menyelamatkan Kuba, yang terisolasi dan miskin sumber daya, dari “kehancuran ekonomi total” dengan mengirim minyak senilai miliaran dolar, sebagai imbalan atas dukungan intelijen, penasihat ekonomi, dan tenaga kesehatan dari Kuba.
Pada kuartal IV 2025, Kuba menerima rata-rata 35.000 barel minyak per hari dari Venezuela. Minyak tersebut digunakan untuk kebutuhan domestik dan sebagian dijual kembali untuk membeli obat-obatan dan pangan. Saat pasukan AS menyerbu Caracas, hampir tiga lusin warga Kuba tewas, banyak di antaranya merupakan pengawal inti Maduro.
Baca Juga: Pemerintahan Trump Atur Pertemuan Dengan Perusahaan Minyak, Bahas Produksi Venezuela
“Sulit membedakan di mana satu negara berakhir dan negara lain dimulai,” tulis koresponden CNN Patrick Oppmann.













